h. Ke “ahli jiwa”.

Pukul 05.30 Rabu pagi. Istri Gideon membangunkan suaminya mengajak doa pagi bersama. Mereka segera lakukan. Dan setelah doa pagi, Samuel menghidupkan komputer – main game sambil mendengarkan musik.

Gideon ngobrol dari hati kehati di kamar sebelah bersama istri. Tiba-tiba istrinya mengatakan : “ pah,.. kita jangan berada di dua bahtera “ Gideon tertegun dengan pertanyaannya yang tidak di duga, tetapi segera bisa menangkap apa yang dimaksud.

“ Mama,..tolong renungkan dengan hati yang jernih, tanpa syak wasangka buruk terlebih dahulu,“
demikian Gideon mencoba menjernihkan gejolak di dalam hatinya. Kemudian ia teruskan,
“ Siapakah nahkoda di GKB ? “
“ Tuhan Yesus Kristus “
“ Siapakah nahkoda gereja – gereja yang lain ? “
“ Tuhan Yesus Kristus juga “
“ Bagaimana bisa dikatakan kita di bahtera yang berbeda “
“ Iya tapi mengapa kita harus kebaktian di gereja yang lain “
“ Di dalam alkitab, Tuhan Yesus itu punya siapa ?,.. Apakah Tuhan Yesusnya orang Katholik ?,.. Apakah Yesusnya orang Kristen Protestan ?,.. atau hanya milik GKB saja ?,.. tidak disebutkan di dalam Alkitab demikian khan ?, dan dengan jelas ibu Joko mengatakan bahwa kita jangan keluar dari GKB,. akan tetapi kalau ingin tahu apa yang disajikan oleh gereja yang lain itu silahkan saja – tidak ada keharusan.”

Istrinya hanya mengangguk angguk. Entah memahami atau bertambah bingung. Akhirnya Gideon katakan, :
“ Mohonlah hikmat surgawi mah, karena perasaan itupun papah pernah rasakan beberapa waktu yang lalu ketika baru mengikuti persekutuan doa “

Kembali istrinya mengangguk tanpa bicara sedikitpun. Akhirnya Gideon menambahkan :
“ Papa tidak bermaksud menghakimi, tetapi tolong ingat sudah berapa lama kita senantiasa memohon kepada Tuhan, agar Samuel menjadi sembuh seperti sedia kala. Papa menganggap Tuhanlah yang mempertemukan kita dengan ibu Joko sehingga banyak hal yang tadinya kita tidak tahu menjadi tahu. Banyak tirani yang semula tersembunyi, tersibak dengan gamblang. Pendek kata hadapilah kehidupan ini dengan kasih yang tulus, karena dengan kasih itulah ada kekuatan yang dahsyat bila dibarengi dengan pengandalan seutuhnya kepada Tuhan Yesus Kristus. Darah yang mengalir di bukit golgota adalah penebusan dosa dan kesalahan kita yang demikian bernilai, dan bilur-bilur Yesus dikala menderita, telah menyembuhkan kita semua dari berbagai penderitaan dan penyakit. Kita sekarang sedang berada dalam sekolah ilahi yang langsung di training oleh Tuhan melalui Samuel anak kita. Bagaimana menghadapi kuasa kegelapan. Dan kita belum tahu kapan peperangan rokhani berakhir. Kita tidak akan pernah menyerah. Kalau Tuhan bersama kita siapakah yang bisa mengalahkan kita ?. Kita pasti menang. “

Gideon memperhatikan, istrinya begitu antusias dengan apa yang disampaikannya. Tetapi tetap diam. Kemudian suaminya melanjutkan,.. “ Bayangkan kalau kita tidak bertemu dengan ibu Joko,.. Apa jadinya dengan Samuel sekarang !!,.. Tegakah kita melihat didepan mata kepala sendiri kuasa kegelapan menari-nari didalam tubuh anak kita ?,.. Apakah tindakan riil para pemangku jawatan terhadap anak kita ?,..Apakah harus ada laporan resmi terlebih dahulu mengenai anak kita Samuel kepada penghantar baru ada perhatian? Apakah memberikan jalan keluar ?,.. Apakah mengajarkan bagaimana menggunakan senjata rokhani yang banyak tersedia di dalam Alkitab ?,.. Bukankah bisa mama rasakan sendiri bagaimana sikap beberapa pemangku jawatan terhadap anak kita Samuel. Vonis dan penghakiman itu yang mama rasakan. Hadapilah dengan kasih dan penyerahan total kepada Tuhan Yesus Kristus. Selama ini kita berteriak memohon pertolongan kepada Tuhan saat kita hampir tenggelam, Tuhan mengirim bantuan agar kita selamat. Apakah uluran pertolongan Tuhan kita tolak ? – Tidak tentu saja. Bagaimana Tuhan akan menolong kita. Terserah Tuhan melalui siapa, kita tidak bisa mendikte Tuhan. Melalui GKB dong Tuhan !,.. Tuhan Yesus milik semua manusia yang percaya, bukan Tuhannya orang GKB saja. Ada kuasa di dalam darah Yesus, ada ayat-ayat yang sangat ditakuti iblis dan kawan-kawannya, ada nyanyian peperangan yang bisa mendobrak kekuatan iblis. Dan ada yang menuntun kita untuk mengerti kesemua itu. Pertolongan Tuhan yang penuh kasih yang kita dambakan selama ini mengapa harus kita tolak ? “

Mereka masing-masing terdiam sejenak, waktu sudah menunjukkan pukul 06.15 Gideon segera mempersiapkan diri bekerja. Hari ini apa yang terjadi dengan Gideon, anak-anak dan istrinya, diserahkan semuanya kedalam pelukan Tuhan Yesus Kristus yang telah berkali-kali memenangkan Samuel dari kuasa kegelapan. Ia yakin di dalam pelukan Tuhan Yesus Kristus mereka dan segenap keluarga aman sentausa. Masih adakah peperangan ? hanya soal waktu.
Saat Gideon kembali ke rumah, terlihat mendung demikian gelap. Sepertinya akan hujan. Ia memohon dalam hati kepada Tuhan agar memberikan kemurahan kepadanya agar tidak kehujanan sampai di rumah. Sampai dekat rumah Gideon tetap kering. Ia merasakan itulah jawaban Tuhan atas permohonannya. Namun tiba-tiba ia teringat bahwa sebentar lagi akan ke gereja. Segera ia mohon agar bisa mengikuti kebaktian tanpa kehujanan.

Sesampai dirumah ia bertemu dengan keluarga, semuanya dalam keadaan sehat dan Samuel-pun tidak ada gangguan sama sekali. Istrinya berangkat lebih dahulu karena menggunakan kendaraan umum, baru Gideon menyusul menggunakan motor bersama Samuel dan Stevanie. Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 saat mereka siap berangkat, tiba-tiba hujan dengan derasnya. Gideon tertegun dan menengadah kepada Tuhan dengan mengucap, “ Kehendak Tuhan jadilah “.

Gideon ingat ia memiliki jas hujan dua buah. Segera digunakan satu untuk Samuel dan satu lagi di gunakan sendiri. Setelah di pakai, lantas Gideon dan Samuel saling pandang dan menoleh ke arah Stevanie,.. “ Vanie bagaimana ?” demikian mereka berguman hampir berbareng.

Akhirnya Gideon renungkan sejenak. Kembali ia serahkan kepada Tuhan. Gideon mengatakan, “ kalau jam 18.30 hujan reda berarti Tuhan mengijinkan kita ke gereja, tetapi kalau jam 18.30 hujan tetap turun berarti Tuhan tidak memperkenankan kita ke Gereja. Kita berdoa saja dirumah “.

Mereka imani dengan sepenuh hati, dan jam 18.20 hujan tiba-tiba berhenti. Mereka melonjak kegirangan. “ Ini jawaban dari Tuhan,.. mari kita berangkat “

Sampai di Hotel Santosa tempat mereka biasa berkebaktian pada hari Rabu Sore, kebaktian baru saja dimulai, mereka terlambat beberapa menit. Mereka segera memasuki ruang kebaktian dengan penuh kerinduan mendengarkan Firman Tuhan. Mereka yakin sekali bahwa malaikat Tuhan mengawal perjalanan dan hidup mereka sehingga bisa mengikuti kebaktian walaupun agak terlambat.

Kebaktian dipimpin oleh prister Ptr. yang adalah penghantar sidang Bks. Seiring dengan berjalannya waktu sampailah pada penerimaan hosti perjamuan kudus. Samuel tetap berjalan kedepan tetapi ketika kedua tangannya menerima hosti tidak segera dimakan, melainkan dengan kaku tetap dipegang. Gideon perhatikan Diaken Str membimbing tangan Samuel karena dalam berjalan nampak Samuel dalam kondisi tidak stabil.

Sampai di deretan tempat harusnya Samuel duduk, Samuel tidak berbelok melainkan berjalan lurus menuju kearah keluar ruangan. Diaken Str. terus mengikuti dari belakang, tetapi ketika diminta memakan roti perjamuan, Samuel segera berbalik menghadapi Diaken Str. dengan mulut menyambar tangan Diaken Str, siap menggigit. Tentu saja Diakan Str.kaget dan meloncat sedikit kebelakang.

Beruntung Samuel tidak berhasil menggigit tangan Diaken Str. Segera Gideon tanggap keadaan yang terjadi pada diri Samuel. Ayahnya segera kejar, tetapi Samuel malahan berlari menuju tangga yang menuju ke lantai 4. Gideon bisa tangkap tangannya, dan dengan otoritas dari Tuhan Yesus Kristus, ia minta Samuel diam ditempat dan berlutut dihadapan Tuhan Yesus. Samuel langsung diam dan bisa di turunkan dari tangga dan duduk di tataran tangga paling bawah. Gideon segera tumpang tangan ke kepala Samuel, serta mohon Diaken Str. berkenan menumpangkan tangannya pula. Segera Gideon berdoa dan menengking kuasa kegelapan yang menguasai Samuel. Tidak lama kemudian Samuel mau memakan roti perjamuan dan mau duduk kembali ke bangkunya semula. Gideon merasa lega dan bersyukur kepada Tuhan.

Sampai pada penghujung kebaktian dimana mereka bersalam salaman pulang, Samuel berjalan seperti saudara-saudari yang lain, tetapi setelah bersalaman wajahnya masih nampak gelap. Tidak ada respon yang positip setiap disapa saudara-saudari yang melewatinya. Akhirnya ayahnya membimbingnya agar duduk. Ia rasakan Samuel masih dikuasari kuasa kegelapan. Adik ipar Gideon yang juga Prister di sidang Bks, mendekati Samuel tetapi ia bereaksi cepat dengan gerakan akan menggigit siapapun yang akan berusaha mendekatinya. Richad yang akan mendekati Samuel ditahan ayahnya, karena kondisi Samuel yang memang membahayakan bagi anaknya. Gideon segera memohon kepada Diaken Str, bahwa ia akan bertemu dengan Prister penghantar untuk membicarakan apa yang Samuel alami akhir-akhir ini. Dan setelah dipersilahkan, Gideon mohon kepada adik iparnya agar menemaninya menghadap.

Samuel di bimbing menuju ke ruang iman untuk bertemu dengan Prister Penghantar, lantas di utarakan kepada pengantar, bagaimana kondisi Samuel akhir-akhir ini, dimana di rasakan silih berganti kuasa kegelapan keluar dan masuk kedalam tubuh anaknya. Samuel masih dalam kondisi dikuasai kuasa kegelapan. Diam, tanpa respon, sesekali menggeram, dan tatapannya nanar kedepan dan terkadang liar.

Banyak yang disampaikan Prister Penghantar kepada Gideon dan anaknya, diantaranya nasehat agar bisa memberikan ruang yang cukup banyak untuk Roh Kudus agar tidak ada tempat bagi roh asing dan seterusnya. Namun akhirnya Gideon tanyakan,:
“ Priester apa yang sebaiknya kami lakukan untuk mengembalikan anak kami agar sehat kembali
seperti sedia kala “.
“ Seperti yang dulu pernah kami sampaikan, bahwa bawalah Samuel ke ahlinya, bisa ke Psikiater, atau Rumah Sakit Jiwa. Cari Ahli Jiwa yang memang biasa menangani kasus-kasus seperti ini “
“ Dulu pernah kami bawa ke Rumah Sakit Ongko Mulyo ( RS. Jiwa ) dan dirawat kurang lebih 2
minggu, tetapi tidak lama kemudian masih tetap kambuh seperti ini “
“ Ya, memang hanya dengan cara itu bisa kita lakukan, dan bahkan dari Rasul Kepala sendiri
yang memberikan penjelasan, kalau urusan yang seperti ini ya urusan Psikiater, karena banyak
kasus, yang menangani adalah Psikiater “
“ Prister,.. apakah berkenan sekarang berdoa untuk anak kami “ Gideon memohon dengan tulus.

Prister Ptr. nampak ragu-ragu, namun akhirnya menjawab, “ Baiklah kita berdoa “
Dan saat doa dipanjatkan Gideon tidak sepenuhnya menutup mata. Ia buka mata sedikit sambil mengawasi Samuel. Dan begitu selesai dengan kata Amin bersama-sama. Samuel tetap membisu, tanpa respon dan pandangan tak terarah dengan baik.

Gideon coba panggil namanya, tetap tidak merespon. Ipar Gideon juga memanggil namanya, tetap saja diam. Gideon – pun sepertinya putus asa. Apakah dalam kondisi seperti ini ia harus membawanya ke Rumah Sakit Jiwa ?. Sementara ia menggunakan motor, karena mobilnya sudah dijual untuk berbagai keperluan yang lebih urgen. Gideon segera berteriak dalam hati kepada Tuhan mohon pertolongan, memohon hikmat agar ia tidak salah jalan didalam menangani Samuel anaknya yang tidak kunjung sadar.

Dari Prister Ptr. sebagai penanggung jawab Sidang Bekasi tidak ada tindak lanjut serta tidak memberikan pilihan lain kecuali membawa ke Rumah Sakit Jiwa. Prister Bd. yang adalah om Samuel pun tetap mengikuti apa yang dikatakan Prister Ptr. Sama-sama diam tanpa solusi yang lain kecuali membawa Samuel ke Rumah Sakit Jiwa.

Beberapa saat kemudian Gideon lihat Samuel menggerakkan tangannya bermaksud mengambil tissue di meja didepan dia duduk. Setelah tissue diambil dilipat-lipat kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya dan ketika tangan Gideon menahannya mulutnya segera menyambar akan menggigit tangan ayahnya.

Dalam kondisi seperti ini, Gideon katakan, “ Prister, apakah boleh kami menggunakan cara kami dalam mengatasi anak kami ? “
“ Oh, silahkan “ kata Prister Ptr. singkat.

Segera Gideon mengambil posisi berdiri disamping kanan Samuel dan ia memohon agar Prister Bd. berkenan membantunya tumpang tangan dari sebelah kiri ke atas kepala Samuel.

Gideon berdoa mengucap syukur atas karunia dan perkenan Bapa Surgawi atas mereka semua dan Samuel yang senantiasa Bapa Surgawi kasihi. Setelah itu ia katakan, “ Tuhan Yesus, kembali saat ini kami berlutut dihadapanmu ya Tuhan Yesus, Engkau mengetahui apa yang kami tengah alami. Kami menangis dihadapan-Mu Tuhan Yesus. Didalam Nama Tuhan Yesus kami ikat, patahkan dan hancurkan kuasa kegelapan yang membelenggu Samuel di dalam Nama Tuhan Yesus. Kami salutkan darah Tuhan Yesus ke dalam kehidupan Samuel dari ujung rambut sampai telapak kaki, agar tiada kuasa apapun yang bisa memasuki tubuhnya, “ Di tengking berkali-kali sampai akhirnya Samuel menggeram dengan keras, dan segera lunglai. Mata Samuel kemudian terbuka dan bingung, pada saat tahu bahwa sekarang berada di ruang imam.

“ Kok, disini sih ? “ pendek Samuel komentar dengan wajah dan mimik muka dan dengan sikap
aslinya.
“ Iya kamu ada bersama-sama dengan papah, Prister penghantar, dan juga om Bd “ Gideon
jawab demikian lalu, “ ayo beri salam buat Priester Ptr. dan Prister Bd “

Segera Samuel bangkit berdiri memberikan tangannya bersalaman dengan Priester Bd. dan Prister Ptr. Setelah Samuel diantar ayahnya keluar dari ruang imam, ayahnya mencoba mencari kesan atas apa yang terjadi didepan mata hamba-hamba Allah yang setiawan ini.

Priester Ptr. mengatakan, “ Kami tidak bisa melakukan seperti itu karena Rsl. Dis. tidak mengajarkan hal yang demikian “
Gideon tidak mau menghakimi dan tidak mau berbantah-bantah, akhirnya ia mengucapkan terima kasih, dan ia pamit pulang kerumah bersama-sama dengan Samuel menggunakan sepeda motor.

Sampai di rumah, anak-anak dan istri Gideon telah sampai terlebih dahulu. Mereka menanyakan bagaimana keadaan Samuel, dan ia katakan nanti saja karena malam ini mereka akan kerumah bu Joko mengantar kaca mata yang tertinggal ketika bu Joko ke rumah Selasa yang lalu.

Sesampai di rumah ibu Joko ia sampaikan kaca mata yang tertinggal. Dan setelah suasana memungkinkan Gideon sampaikan apa yang baru saja terjadi ketika mereka ke gereja.

Beliau menyampaikan puji Tuhan, karena segala sesuatu yang terjadi pastilah atas perkenan Tuhan. Tuhan melalui Samual dan Gideon mencoba membuka mata rokhani para pekerja Allah, para hamba Allah bahwa ada kuasa di dalam Nama Yesus untuk mengalahkan kuasa kegelapan. Senjata rokhani banyak disediakan Tuhan di dalam Alkitab, mengapa mereka tidak gunakan ?. Tuhan berusaha mencelikan mata rokhani para hamba Allah, bahwa sudah saatnya menggunakan senjata rokhani yang banyak sekali disediakan di dalam Alkitab. Hanya apakah mereka memiliki keberanian ?,.. dan apakah mereka memiliki cukup iman untuk melakukan perlawanan terhadap kuasa kegelapan ?,..

Saat kembali mereka pulang kerumah, anak-anak dan istri Gideon belum tidur, kecuali Stevanie Gideon sampaikan apa yang mereka alami bersama, baik ketika di Gereja maupun ketika di rumah ibu Joko.

Pukul 23.30 mereka berdoa malam bersama-sama dan masing-masing beristirahat tidur.
Dan pada pukul 05.30 hari Kamis 11 Nopember 2004 mereka bangun pagi dan bersama-sama doa pagi, memohon berkat dan perlindungan dari Tuhan Yesus Kristus.

Perlindungan Tuhan sangat sempurna,..
Ikuti terus,.. episode mendatang.

Tuhan Yesus memberkati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: