j. Kaki/tangan di ikat,

Setelah Gideon makan siang, dilanjutkan dengan aktivitas di tempat pekerjaan dengan perhatian tetap tercurah ke rumah. Dan kurang lebih jam 14.00 Wilbert menghubungi lewat tilpon mengatakan bahwa Samuel mendapat serangan. Gideon katakan bahwa ia akan segera datang.

Satu jam kemudian dengan jantung berdebar dan kekhawatiran yang luar biasa barulah Gideon sampai di halaman rumah. Ia dapati istrinya diluar rumah dan ketiga anak yang lainnya. Ternyata Samuel dikunci di dalam rumah. Gideon segera buka pintu bersama istri serta Wilbert mengikut dari belakang sambil mengatakan bahwa Samuel sedang memporak porandakan isi rumah.

Gideon tidak gentar, dan pada saat pintu di buka, terlihat Samuel dengan kedua kakinya meloncat-loncat ke depan dengan kedua tangan terjulur ke depan ( persis sama seperti film hantu Cina bila berjalan ), lantai berserakan sangat kacau. Segera ia tumpang tangan diatas kepala Samuel menengking kekuatan setan diikuti dengan istrinya. Proses ini berlangsung kurang lebih setengah jam barulah Samuel sadar kembali.

Dan Samuel nampak bingung dan terkejut begitu melihat ruangan berserakan penuh hamparan kueh-kueh kering dan dengan robekan-robekan kertas yang tadinya direkatkan di dinding yang berisi cuplikan ayat – ayat yang diambil dari Alkitab. Samuel nampak sedih melihat itu semua. Ayahnya menghibur dan ia katakan,
“ Samuel, jangan pikirkan apapun, papa tahu ini bukan pekerjaanmu, tetapi roh setan yang
menggunakan tubuh jasmanimu yang membuat kekacauan ini”
“ Saya harus bagaimana pah, agar segera terbebas dari ini semua ? Samuel sudah sangat lelah
pah, entahlah bisa bertahan atau tidak “ katanya kepada kedua orang tuanya memelas.
“ Hanya Tuhan Yesuslah satu-satunya kekuatan yang mampu menanggulangi ini semua “
ayahnya katakan demikian sambil membersihkan wajah anaknya yang penuh dengan keringat
dan kotoran.

Mereka sekeluarga semua merasa lega dan mengucap syukur kehadirat Tuhan atas kebesaran-Nya dan kekuatan-Nya yang sunguh luar biasa di dalam mengatasi kemelut di dalam diri Samuel. Segera ayahnya membereskan keadaan yang sangat tidak enak dipandang mata. Sementara Gideon melepas jaket dan baju kerja, Wilbert dan Ragil menyapu lantai yang penuh dengan serpihan kueh-kueh kering dan benda-benda “ korban “ lainnya.

Fisik Samuel demikian lelah, demikian ia berujar ketika di tanyakan bagaimana keadaannya sekarang. Dan segera Samuel dipersilakan tidur-tiduran di kursi panjang di ruang depan, tidak perlu membantu adik-adiknya membereskan rumah. Belum lagi suasana tentram berlangsung setengah jam, Wilbert memberikan kode kepada ayahnya bahwa Samuel kemasukan lagi. Saat itu ayahnya sedang berada di kamar, segera ia hampiri anak pertamanya..

Benar apa yang disampaikan Wilbert, Samuel kembali di kuasai roh setan. Serentak bersama istri ia berdoa sambil tumpang tangan diatas kepala Samuel. Berkali-kali mereka bergumul baik secara fisik maupun di dalam doa menengking kekuatan setan sambil yang lainnya menyanyikan nyanyian peperangan.

Saat-saat yang demikian genting, kembali Gideon sampaikan ratapan mereka kehadirat Tuhan dari dalam hati mereka berdua kehadirat Tuhan. Ingin ia menangis dengan keras dan berteriak dihadapan Tuhan, tetapi ia tidak mau mengucurkan air mata di depan mata iblis, Gideon tidak mau lemah di depan setan. Ia harus tegar dan tetap kuat, karena ia yakin bahwa saat Tuhan bersamanya tiada kekuatan apapun yang bisa mengalahkan-Nya.

Beberapa kali nampak dengan jelas manifestasi dimunculkan di depan mereka, bagaimana Samuel tiba-tiba menyenandungkan lagu Jawa sambil menggerakkan tangannya dengan gerakan menari, kemudian setelah di tengking dan di larang bermanifestasi di dalam nama Tuhan Yesus, ganti lagi dengan teriakan-teriakan yang penuh dengan makian dan ancaman.

Pergumulan mereka demikian dahsyat, sampai Gideon harus mengeluarkan cara yang sebenarnya kurang manusiawi. Akan tetapi terpaksa ia lakukan. Saat “Samuel” menyerang ayah dan ibunya secara fisik, dilakukan sedemikian rupa sehingga kedua tangannya bisa terikat kebelakang tubuhnya, dan kedua kakinya di ikat dan di lipat ke belakang. Ini terpaksa sekali di lakukan agar tidak membahayakan fisik-fisik ayah dan ibunya dan anak-anaknya yang lain dan tidak membahayakan diri Samuel sendiri. Dalam kondisi seperti inilah lebih leluasa mereka menengking kuasa setan. Dan kurang lebih setengah jam kemudian, Samuel sadar kembali. Dan minta segera ikatannya dilepaskan. Setelah diuji dengan beberapa pertanyaaan akhirnya bisa mengenali Samuel yang asli dan segera pengikat di lepaskan.

Setelah Samuel di bebaskan, ayahnya menyampaikan mengapa harus di lakukan sepeti itu, Samuel mengangguk penuh pengertian. Apalagi ketika di sampaikan bahwa mamanya tadi berusaha dicekiknya.

“ Mana mungkin Samuel mencekik mama ?” katanya sambil menatap mamanya.
“ Bukan kamu, tetapi roh setan yang menggunakan tubuhmu “ ayahnya coba menjelaskan.

Gideon kembali berfikir keras mengapa begitu mudah setan masuk kedalam tubuh anaknya, akhirnya ia sampaikan kepada istri dan anak-anaknya semua bahwa ia akan mengoleskan minyak urapan ke setiap pintu, jendela dan dinding-dinding atau tempat tempat tertentu di lingkungan rumah. Mereka menyambut dengan antusias dan segera di siapkan minyak urapan.

Dan setelah siap segera di lakukan apa yang mereka rencanakan. Samuel yang merasa selama ini menjadi korban, begitu semangat dan berbicara keras memohon perlindungan Tuhan Yesus Kristus setiap mengoleskan minyak urapan. Kebahagian yang mulai mereka rasakan, kembali digoyang setan. Terjadi adu pendapat antara Samuel dan adik-adiknya. Samiel mengatakan, “ Ayo siap-siap kita nanti sore akan ke gereja “ ( padahal sebenarnya hari Kamis ). Adiknya mengatakan pula bahwa sekarang hari Kamis, kita ke gereja hari Rabu sore, dan itu adalah kemarin. Tetapi Samuel tidak bisa menerima keterangan adiknya, karena dalam benak pikirannya hari itu adalah hari Rabu dan Rabu sore mereka mengkhususkan diri berkebaktian di gereja.

Masing-masing tetap pada kebenarannya sendiri-sendiri sampai akhirnya Samuel menampakkan gejala kembali dikuasai Roh setan. Kembali keluarga ini bergumul. Manifestasi kembali muncul di depan mereka dengan berbagai bentuk. Dalam kondisi seperti ini untuk keselamatan fisik Samuel dan orang-orang di sekelilingnya, maka segera fisiknya di lumpuhkan dengan kembali mengikat kedua tangannya kebelakang tubuhnya, dan mengikat kedua kakinya serta melipat kebelakang.

Gideon berembuk dengan sang istri, bagaimana tindak lanjut dari ini semua. Gideon lontarkan pendapatnya, yang akan menghubungi ibu Joko, sang istri setuju. Waktu kira-kira pukul 16.30 Gideon meluncur ke tempat ibu Joko dengan hati yang remuk dan hancur berkeping-keping. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 20 menit ia hanya bisa meratap dan manangis di hadapan Tuhan.

Terbayang bahwa kedua orang tuanya telah tiada, kakaknya sulit memahami keadaan dirinya, adiknya yang selama ini paling dekat dengan dirinya, memiliki keraguan yang bisa Gideon pahami, karena tidak melihat dan mengalami sendiri. Kalau menuruti pihak gereja dimana selama ini Gideon bergereja, ia diminta membawa Samuel ke Rumah Sakit Jiwa atau ke ahli jiwa, sementara Gideon tahu bahwa bukan disitu Samuel seharusnya dibawa, karena kebetulan ia berlatar belakang medis, dan beberapa tahun praktek di Ruang 13 bagian Penyakit Jiwa di RS Gatot Subroto Jakarta, dan mengetahui pula bagaimana system penyembuhannya yang cenderung melemahkan syaraf otak.

Terbayang pula proses therapy dengan strum listrik yang dikenal dengan ECT yang sangat ditakuti pasien penyakit jiwa. Terbayang bagaimana orang menggelepar kesakitan dan nampak sangat tersiksa dan menderita karena di aliri setrum listrik di kepalanya, dengan kekuatan tertentu. Apakah Samuel harus mendapat perlakuan demikian ?,.. Alangkah kejamnya Gideon sebagai orang tua Samuel bila di lakukan hal yang demikian. Bukankah ada Tuhan Yesus Kristus yang adalah sumber segala sumber, tabibnya segala tabib dan sumber kehidupan kita, mengapa tidak diserahkan seutuhnya kesehatan Samuel kedalam tangan-Nya ?…

Tidak terasa Gideon sampai di halaman rumah ibu Joko. Ia bertemu dengan mas Diar anak ibu Joko. Dan saat di tanyakan apakah ada ibu Joko, mas Diar mengatakan ada, maka hatinya demikian bahagia, bagaikan hujan yang demikian deras setelah kekeringan yang demikian lama.

Ibu Joko masih memakai daster, ketika menjumpai Gideon. Ibu Joko nampak lelah karena baru saja pulang setelah memberikan pelayanan, demikian beliau sampaikan setelah Gideon duduk bersama diruang tamu. Sulit ia sembunyikan perasaannya, kegundahannya dan sekaligus kesedihannya. Gideon sampaikan apa yang terjadi dengan Samuel sepanjang hari ini. Ibu Joko memperhatikan dengan seksama apa yang Gideon sampaikan. Dan setelah semua di sampaikan termasuk derita orang tuanya dan apa yang di lakukan terhadap fisik Samuel, beliau menarik nafas panjang dengan mengatakan, “ Kasihan sekali anak itu,.”. dan nampak kesedihan dan keprihatinan yang dalam membayang di raut wajah ibu Joko.

Kemudian beliau mengajak Gideon beserta dengan bapak Joko berdoa untuk Samuel. Mereka berlutut dihadapan Tuhan, menyampaikan segala persoalan yang tengah di hadapi, mereka sampaikan segala kesedihan dan himpitan yang dihadapi saat ini. Dalam doa ibu Joko, Gideon rasakan tangisan beliau untuk Samuel anaknya. Demikian dalam kecintaan dan perhatian ibu Joko dan keluarganya kepada keluarga Gideon yang “ bukan apa-apanya “ dapat Gideon rasakan.

Diselingi dengan nyanyian puji-pujian penyembahan dan nyanyian peperangan, ibu Joko menggunakan otoritas dari Tuhan Yesus, mengikat, mematahkan dan menghancurkan kuasa setan yang menguasai roh Samuel. Setelah kurang lebih 45 menit mereka berdoa dan memuji Tuhan, ibu Joko dan bapak Joko menyatakan, malam ini juga akan ke rumah Gideon sebelum melanjutkan pelayanan ke tempat yang lain. Saat Gideon pamit mohon diri ibu Joko mengatakan, “ Pak Gideon….., jangan khawatir, Samuel saat ini sudah dibebaskan”. Dan pernyataan beliau di imani dengan sepenuh hati.

Sesampai di rumah, pintu depan nampak terbuka. Gideon dapati Samuel sedang ngobrol dengan mamanya tetapi masih dalam kondisi terikat. Samuel minta segera dilepaskan ikatan yang membelenggu tangan dan kakinya, tetapi mamanya mengatakan bahwa tunggu papa datang. Dan ketika ayahnya menjumpai Samuel, dia dengan girang mengatakan, “ Papah tega banget ya sama Samuel. Di alam roh Samuel di ikat, begitu tadi roh Samuel dilempar dari ketinggian ke dalam tubuh Samuel kembali, eh tubuh jasmani Samuel juga di ikat “ katanya sambil terkekeh geli. Segera ayahnya membebaskannya dari ikatan. Gideon jelaskan mengapa di ikat kembali. Dan Samuel bisa memahami, karena hampir saja tangannya digunakan setan mencekik Stevanie yang melintas di dekatnya.

Tetapi saat pengikat dilepaskan semua, Samuel mengeluh sesaat, ” tangan dan kaki Samuel masih dirante pah, “
Segera ayahnya melepaskan di dalam doa dan permohonan kepada Tuhan agar melepaskan semua belenggu yang menyiksanya. Begitu doa selesai, Samuel merasakan kebebasan yang sesungguhnya. Berjalan mencari adik-adiknya yang takut mendekat. Dan setelah adik-adiknya yakin Samuel sudah sadar, mereka baru berani mendekat. Istri Gideon menceritakan kepada suaminya bagaimana Stevanie menangisi Samuel dan meminta agar kakaknya jangan di ikat kaki dan tangannya. Kasihan ma, mas Samuel jangan di ikat.

Apa yang disampaikan ibu Joko kembali terbukti. Saat doa pelepasan selesai dan ibu Joko mengatakan Samuel telah sadar, saat itu pula roh Samuel kembali ke tubuh jasmaninya.

Lelah,.. dan lelah.
Ikuti terus kisah selanjutnya.

Tuhan Yesus memberkati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: