r. Jalan Simpang.

Lamunan Gideon seketika terhenti ketika yang lain sudah siap memuji Tuhan dan siap berdoa. Di awali dengan puji-pujian dengan penuh perasaan dilanjutkan dengan doa. Dan saat doa selesai Gideon rasakan ada sesuatu yang tidak semestinya Samuel lakukan. Ia mencakar-cakar lantai tempat ia duduk. Mata terpejam, wajah tanpa expresi dan terkesan dingin. Gideon segera konsentrasi siap perang melawan kuasa kegelapan yang mulai masuk ke dalam lingkaran doa sambil satu dengan yang lain bergandengan tangan sehingga terbentuk lingkaran tanpa putus. Nyanyian peperangan mulai dinyanyikan dengan penuh kekuatan yang berlandaskan pada nama Tuhan Yesus Kristus.

Bahasa roh mulai terdengar lebih sering diselingi dengan tengkingan berulang-ulang. Minyak urapan segera menyergap dari satu titik ke titik yang lain di seluruh tubuh Samuel. Saat telinga ditutup dengan kedua jari Gideon yang sudah di olesi dengan minyak urapan. Nampak ada penolakan dari kepala Samuel, tetapi terus digempur sampai dari mulut Samuel keluar suara, “ aku ora gelem “ ( saya tidak mau ) sampai beberapa kali kata-kata itu terdengar.

Kemudian seluruh punggung di olesi dengan minyak urapan, juga bagian-bagian tubuh yang lain termasuk kepala dan bagian dada. Samuel kemudian bergerak merebahkan diri tengkurep kemudian telentang, dan kemudian kaki sebelah kanan bergerak liar seperti sedang menendang udara kosong. Kemudian Gideon tengking di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kakipun langsung diam dengan manis. Tetapi langsung kaki yang sebelah kiri liar juga. Langsung ditengking di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Dan kedua kakinya akhirnya diam oleh kuasa darah Yesus.

Tangan kanan Samuel tiba-tiba mencakar-cakar lantai. Kemudian ditengking di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Bukannya diam malahan bergerak lebih hebat lagi. Bergetar dengan kuat, di tengking lagi berulang-ulang sampai akhirnya lemas dan normal kembali. Sementara itu nyanyian peperangan terus dinyanyikan dengan semangat. Dan tidak lama kemudian Samuel membuka mata perlahan-lahan, tetapi saat ayahnya bertanya, ia masih pasif. Baru setelah Gideon meminta dibawakan selendang, perlahan-lahan Samuel mulai bisa berkomunikasi.

Samuel mengatakan bahwa rohnya dibawa oleh roh yang mengaku leluhurnya SYT~ Magelang. Di alam roh ia dibawa ke Nampudadi – Kebumen. Disitu ia lihat benda-benda yang dikeramatkan di dalam rumah orang tua SYT. Di alam roh Samuel diancam agar jangan ikut campur dengan urusan SYT, karena ia adalah cucunya. Tetapi akhirnya roh Samuel direbut oleh Tuhan Yesus dan dikembalikan ke dalam tubuhnya. Ia memang merasa dilempar masuk kembali ke tubuhnya, tatapi tidak sekeras ketika rohnya dilempar dari puncak gunung ke tubuhnya yang waktu itu terikat di rumah.

Kurang lebih pukul 21.00 semua berakhir, tetapi Gideon merasakan ada sesuatu yang hinggap di punggungnya maka segera mengambil minyak urapan serta mengoleskan dipunggungnya sambil menengking mengusir keluar semua kuasa kegelapan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Dan malam semakin kelam, mereka masing-masing menempati tempat istirahatnya, setelah tidak lagi memungkinkan membuka mata. TV kembali di pasifkan, di matikan untuk waktu yang belum diketahui sampai kapan.

Diantara bayang-bayang yang lincah menari, Gideon ingat kedua orang tuanya, kakak dan adik-adiknya yang sangat ia kasihi, bahkan nenek dan kakeknya yang telah lebih dahulu menghadap Sang Pencipta. Tidak sedikitpun sebelumnya ia bayangkan, ia angankan dan impikan bagaimana sekarang ini ia berseberangan dengan keyakinan saudara-saudaranya, berseberangan dengan kedua orang tuanya. Bahkan berseberangan dengan bapak dan ibu mertuanya.

Gideon sangat memahami kalau beliau tidak berkenan di hati dan sangat-sangat kecewa, bahkan kalau mungkin, kalau waktu bisa di ulang biarlah istri Gideon tidak pernah lahir kedalam dunia ini, atau biarlah jangan ambil Gideon sebagai menantu, agar nama besar beliau tidak tercoreng, nama beliau tidak ternoda sebagai orang tua yang gagal membawa anak dan cucunya kedalam bahtera beliau. Sangat sedih bila Gideon renungkan hal yang demikian. Apalagi beliau adalah seorang hamba Allah walaupun telah diberikan pengasohan. Artinya beliau berkali-kali menjadi mulut Allah saat menyampaikan firman-Nya kepada para jemaat.

Tetapi Gideon kembali menerawang lebih jauh. Ia katakan dalam hati, siapakah dirinya, milik siapakah dia. Dan siapa yang lebih berhak atas dirinya ? Siapakah yang lebih berhak mengarahkan haluan kapal kehidupannya ?. Orang tuanya kah ? Mertuanya kah ? Istrinya kah ? atau saudara-saudaranya ?,.. Tanpa sadar ia menggeleng-gelengkan kepalanya yang bertumpu diatas kedua tangannya.

Ada yang jauh lebih berhak atas dirinya yaitu Sang Pencipta. Kalau Sang Pencipta berhendak apapun atas dirinya, siapakah yang sanggup menghalanginya ?. Siapakah kita dihadapan-Nya ?. Bukankah kita adalah sosok manusia yang najis bibir ? Lemah tak berdaya ? Mudah dikalahkan oleh sifat kedagingan kita ?. Satu hal yang kini Gideon senantiasa jaga ialah tidak mau jauh dengan Juruselamat, Yesus Kristus.

Mungkin akan banyak orang yang mengatakan, sok suci,.. sok pintar,.. sok alkitabiah, dan sok-sok yang lain. Namun ia tidak peduli lagi akan apa kata mereka, tetapi yang lebih Gideon pedulikan adalah bagaimana kehendak Tuhan saja. Ia sudah ditawan Yesus Kristus. Ia tidak mungkin pergi kemana-mana. Tuhan Yesus sudah senantiasa ia rasakan dalam hatinya. Begitu dekat,.. bahkan sangat dekat.
Berkali-kali Gideon buktikan bahwa Tuhan Yesus Kristus yang ia kenal, bukanlah Tuhan yang jauh, bukan Tuhan yang acuh tak acuh, dan tidak peduli pada anak-Nya. Ia sudah buktikan bahwa Tuhan Yesus sangat dekat, dan slalu dengar jeritan hatinya.

Ia sudah rasakan betapa indah hidup di dalam Yesus Kristus, apapun kondisinya. Kalau dahulu sering merasa khawatir dengan kejamnya dunia, dengan perlakuan orang – orang disekitarnya, tetapi kini tidak lagi. Dan iapun sudah serahkan ke 4 anaknya kedalam pelukan Tuhan Yesus Kristus, Biarlah senantiasa Tuhan dekap dengan kasih-Nya, Ia peluk dengan kecintaan-Nya, dan bahkan Ia bimbing dengan cara-Nya yang sangat menakjubkan.

Dan mengapa anak-anak Gideon yang lain mengikuti jejak kakak dan kedua orang tuanya ? Karena merekapun tidak buta, mereka dengar panggilan Tuhan Yesus Kristus. Mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri betapa Tuhan Yesus Kristus mengasihi kakak dan kedua orang tuanya.

Gideon tidak pernah sekalipun memaksakan mereka mengikuti jejaknya. Ia bebaskan anak-anaknya yang lain. Dan kebebasan yang orang tua mereka berikan digunakan anak-anaknya menentukan kemana ia pergi.

Pilihan mereka adalah mendengar suara hati mereka. Mengikuti jejak kakak dan kedua orang tuanya tanpa paksaan sedikitpun. Mereka rasakan kasih Tuhan begitu nyata, tidak lagi berbentuk semu dan tertuang dalam sebuah teori. Pertolongan Tuhan Yesus Kristus nampak jelas dan nyata didepan mereka.

Sangat menggores di dalam hati mereka, ketika kakaknya kemasukan kuasa kegelapan berperilaku membabi buta mengamuk membanting benda-benda disekitarnya, mencaci maki dengan kasar, menantang Tuhan Yesus Kristus dengan lantangnya.

Bahkan merekapun sempat menderita karena berhasil disakiti tubuh Samuel yang saat itu digunakan kuasa kegelapan. Tetapi itu bukan masalah karena mereka percaya bahwa apa yang terjadi dibawah kendali Tuhan. Tuhan mengijinkan itu terjadi. Yang mereka pikirkan saat itu adalah bahwa Tuhan sedang mendidik, memberikan pengajaran kepada mereka dengan cara Tuhan. Ternyata kepercayaan mereka tidak sia-sia. Di depan mata mereka sendiri mereka lihat, saksikan dan bahkan ikut membantu menghancurkan kuasa kegelapan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Mereka sudah biasa berperang, biasa melihat manifestasi kuasa kegelapan. Dan mereka tidak lari, apalagi mengunci diri. Tidak. Sekali lagi tidak. Karena mereka merasa bahwa Roh Kudus di dalam diri mereka jauh lebih kuat dari roh apapun di dalam dunia ini.

Gideon bangga memiliki anak-anak seperti mereka. Sekalipun terkadang cemoohan, penghakiman turun pada mereka namun mereka tetap tegar, tetap sabar dan semakin gencar menebar kasih Yesus yang mereka sudah terima dan rasakan. Mereka hafal apa itu kasih, buah-buah roh.

Bahkan Stevanie yang belum genap 4 tahun hafal, bahkan hafal ayat untuk mengusir kuasa kegelapan ( Lukas 10:19 ). Karena mereka sering di ikut sertakan kedua orang tuanya berperang melawan penguasa-penguasa di udara, setan-setan dan kawan-kawannya.

Ikuti terus kisah ini,…

Tuhan Yesus memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: