s. Sentuhan Pertama.

Kasih Yesus sebenarnya sudah mulai menyentuh eyang putri Samuel serta om WRG. Ini kalau mereka peka dan mau mengenal Tuhan Yesus Kristus yang sudah menebus kita dikayu salib. Di depan mata mereka Tuhan ijinkan Samuel manifestasi mendapat serangan kuasa kegelapan. Karena tidak setiap orang mendapat karunia seperti itu. Dan itu adalah pengajaran yang indah, sekaligus mendebarkan. Sayangnya pengajaran Tuhan disikapi dengan rasa takut. Bukannya rasa takut akan Allah, tetapi rasa takut menghadapi sosok kuasa kegelapan seakan akan sudah menyerah sebelum bertempur.

Lupakah pada Wahyu 21:8 yang mengatakan, “ Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya,…. Mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang …….. “ Dan ini sangat jelas bisa dibaca oleh siapapun yang sudah pernah bisa membaca. Dan sangat mudah dipahami. Kalimat yang sederhana.

Sampai terbersit dalam benak Gideon, apakah Roh Kudus yang dikenal Gideon berbeda dengan Roh Kudus di dalam eyang putri Samuel dan om WRG ?. Sebab Roh Kudus yang dikenal Gideon selama ini sangat pemberani, dan tidak pernah menyerah melawan kuasa kegelapan. Dan selama ini selalu menang dan tidak pernah kalah melawan kuasa kegelapan.

Jauh dilubuk hati Gideon tetap meyakini bahwa kasih Tuhan Yesus akan tetap menyentuh eyang kakung dan eyang putri Samuel, entah dengan cara apa. Gideon serahkan kepada Tuhan. Tuhan yang memiliki rencana, dan Tuhan pula yang mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk caranya membimbing, menegur dan cara memberikan pertolongan.

Beberapa waktu yang lalu Gideon berulang-ulang bertanya kepada Tuhan, mengapa hanya Samuel yang sering kesurupan ? mengapa anaknya ? mengapa bukan orang lain saja ? mengapa bukan anak Rasul ? mengapa bukan anak pemangku jawatan ?,.. Tuhan tidak memberikan jawaban secara langsung.

Tuhan berikan jawaban kepada Gideon sedikit demi sedikit setelah ia meratap dengan pedih di dalam doa-doanya. Dan akhirnya mendapatkan jawabannya secara lengkap setelah sekian lama bergumul dan berusaha mencari wajah Allah dan mencari perkenan Allah terlebih dahulu.

Andaikan Gideon masih sebagai seorang jawatan, mungkinkah bisa merendahkan diri pada kehendak Tuhan ?. Mungkinkah mencari kehendak Allah terlebih dahulu ? Mungkinkah mencari perkenan Allah terlebih dahulu ? Mungkinkah menyembah Allah di dalam Roh dan Kebenaran dengan cara yang dikehendaki Allah ? Mungkinkah berdoa lebih sungguh kepada Tuhan sampai menitikkan air mata penyerahan diri ?. Dan mungkinkah baginya menerima kenyataan bahwa kuasa Tuhan Yesus mengusir setan-setan, bernubuat, bahasa roh, penyembuhan dan karunia-karunia yang lain sekarang ini masih ada ? Mungkinkah akan mengedepankan Tuhan Yesus Kristus sebelum yang lain ?.

Kenyataan yang dihadapi memang tak terbantahkan, bahwa anaknya yaitu Samuel diperkenankan Tuhan menjadi alat Tuhan untuk memberikan pengajaran kepada kedua orang tuanya serta saudara-saudaranya. Dan kalau disimak halaman sebelumnya ternyata bukan hanya Samuel yang di perkenankan Tuhan manifestasi kuasa kegelapan, melainkan juga Wilbert, adiknya, Tuhan ijinkan mendapat serangan kuasa kegelapan.

Mengapa Tuhan pakai keluarga Gideon khususnya Samuel sebagai sarana pengajaran bagi kedua orang tuanya ? Hanya Tuhan yang tahu. Mengapa Tuhan pakai Musa memimpin bangsa Israel ? Hanya Tuhan yang tahu. Karena Tuhan tahu hati setiap orang. Tuhan melihat hati, bukan melihat penampilan luar. Mengapa Tuhan pakai Rasul Paulus ? Hanya Tuhan yang tahu. Kepikiran Tuhan bukan kepikiran manusia. Rencana Tuhan bukan rencana manusia.

Apa yang bisa kita lakukan bagi anak kita ? Siapakah kita ? Tuhan adalah Master Plan kehidupan seseorang. Siapa akan jadi siapa. Siapa yang sanggup berdiri menentang kehendak-Nya ? Kalau Tuhan sudah berkehendak apa arti kita sebagai manusia ciptaan-Nya ?

Andaikan Gideon bisa duduk bersama dengan segenap keluarga dan saudara-saudarinya, membahas apa yang terjadi pada diri dan keluarganya, alangkah indahnya. Di situ akan dibuka lebar diskusi yang hidup, segar tanpa disertai dengan amarah, dengki, iri, sakit hati, atau apapun yang berasal dari kuasa kegelapan.

Biarlah Roh Kudus yang pimpin acara tersebut dari awal hingga akhir, agar terjadi komunikasi timbal balik yang indah untuk mendapatkan kebenaran Allah. Bukankah Tuhan ijinkan kita mencari Kerajaan Allah beserta dengan segala kebenarannya terlebih dahulu ?. Dan sekaligus menguji setiap roh yang datang. Apakah berasal dari Allah atau berasal dari kuara kegelapan.

Gideon akan sangat berterima kasih, bila hal itu bisa terlaksana. Ia akan siapkan waktu khusus untuk acara tersebut, kalau memang segenap keluarga, saudara-saudari berkenan menyiapkan waktunya serta tidak keberatan. Ini adalah urusan yang sangat urgen, menyangkut keyakinan seseorang. Antara hidup kekal dan kematian yang kekal. Mengapa tidak disikapi dengan sangat-sangat serius ?.

Tuhan tidak berubah, dahulu, sekarang dan yang akan datang. Kalau dahulu Tuhan berkenan memberikan beberapa nubuat kepada pendahulu-pendahulu kita, apakah sekarang tidak mampu ? Pendahulu kita dahulu mendapatkan nubuat dengan doa dan puasa. Apakah sekarang ini tidak bisa dilakukan ?

Kalau dahulu bisa dilakukan beston ( doa malam ), bukankah sekarang hal itu juga bisa di lakukan ?.Apa yang menghalangi ? Atau tidak ada waktukah untuk Tuhan dan mencari kebenaran Tuhan ? Artinya biarlah kita alami langsung pengalaman bersama Tuhan dan kasih-Nya, bukan lagi katanya si anu, atau kata yang lain. Biarlah kita alami sendiri. Biarlah kita rasakan sendiri bagaimana kasih Yesus menjamah kehidupan kita, menyentuh perasaan kita, hati kita, dan alam pikiran kita.

Sungguh demikian indah hidup di dalam Tuhan, hidup bersama Yesus. Apalagi kalau menyadari bahwa tubuh kita adalah bait Allah yang hidup. Maka apa yang kita lakukan, kita pikirkan, kita rasakan, dan kita ucapkan senantiasa bersandar pada perkenan Tuhan saja. Maka tidak akan ada lagi amarah, dengki, iri, sakit hati, kesombongan diri, karena sadar betul bahwa itu semua tidaklah dikehendaki Tuhan.

Jadi kalau masih ada amarah, sakit, hati, dendam, mari kita bertanya dalam hati masing-masing. Saat itu kita lakukan, Yesus ada di mana ? Tetapkah ada di dalam hati kita ? Roh Kudus ada dimana ? Masih adakah di hati serta kepikiran kita ?.

Satu kata,… teruskan menyimak kisah ini,..

Tuhan Yesus memberkati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: