e. Potret,..

Ada yang pernah bertanya, mengenai kesaksian yang sudah memasuki buku ke tiga ini, sudahkah dipertimbangkan terlebih dahulu ? Sudahkah diuji kebenaran-nya ? Dan kemudian kami jelasan bahwa yang tertulis pada buku kesaksian yang pertama, kedua dan berikutnya ini adalah sebuah potret kehidupan. Catatan obyektif yang tercatat apa adanya. Tanpa kesimpulan dan pengajaran apapun.

Kalaupun ada pendapat yang menjelaskannya itupun sebatas pendapat pribadi yang ada baiknya diuji terlebih dahulu kebenarannya. Karena ini adalah merupakan gambaran yang terjadi pada saat itu, maka seiring dengan berjalannya waktu tidak tertutup kemungkinan kejadian yang berikutnya justru mematahkan pendapat dari kejadian yang lebih dahulu.

Tidak ada maksud penulis untuk membentuk opini yang salah terhadap suatu pengajaran tertentu, akan tetapi kembali hanya sikap pribadinyalah yang menyatakan mengapa seperti ini dan mengapa seperti itu. Dan tentu saja potret adalah tetap potret, sehingga penulis akan berusaha sajikan apa adanya, tanpa bumbu penyedap apapun.

Dalam rangkaian seperti yang dimaksud terdahulu, kembali kami catat beberapa kejadian yang bisa jadi merupakan gambaran yang sama seperti yang pembaca alami, atau bahkan sesuatu gambaran yang sama sekali baru. Atau justru merupakan “ pengajaran dan pemahaman “ yang baru. Sangat tergantung dari siapa yang menilai dan siapa yang mencerna.

Bukan tidak mungkin justru menjadi batu sandungan bagi kehidupan seseorang. Tinggal dilihat kepada siapa ia menyembah, dan mempertaruhkan hidupnya. Dan akan jauh lebih bijak kalau juga dilihat buah-buah roh yang dihasilkannya. Karena dari buahnyalah kita tahu jatidiri yang sebenarnya.

Tatkala waktu mendekati pukul 23.00 Gideon mengajak Yulia, Samuel, Ragil, dan Stevanie, mengadakan doa malam bersama. Wilbert, tidak ada dirumah sedang menginap dirumah kawannya. Dan setelah doa malam selesai, dilanjutkan dengan tanya jawab diantara keluarga. Pada kesempatan itu Samuel banyak sekali ajukan pertanyaan yang dijawab dengan tepat oleh ayahnya yang senantiasa memohon hikmat dan makrifat dari Tuhan Yesus Kristus. Tetapi dalam hati kecil Gideon merasa yang bertanya bukan murni dari kepikiran Samuel namun Gideon merasakan ada unsur lain yang mempengaruhinya.

Sampai pada keputusan bahwa Samuel harus pelepasan malam ini juga. Samuel menjawab tidak keberatan walaupun nampak sekali kegelisahan tersembul dalam sikap duduknya, cara menjawab pertanyaan, dan tatapan matanya yang mulai liar. Metode yang digunakan tidak jauh beda dengan sebelumnya, namun kali ini langsung memasang pengaman dengan mengikat kedua kaki dan tangannya serta kedua matanya ditutup.

Tidak terlalu lama Samuel dalam kondisi demikian, karena tidak nampak ada reaksi apapun kecuali ketika pengurapan dengan minyak urapan di kedua mata dan di dadanya ada nuansa kegelapan keluar dari dalam tubuhnya. Setelah itu semua ikatan dilepaskan. Tetapi ketika diuji dengan mengemukakan identitas dirinya sebagai anak Allah ternyata masih tidak tepat, sehingga Gideon meyakini bahwa Samuel belum bersih.

Kembali Gideon dan Yulia berdoa memohon hikmat dan makrifat Tuhan Yesus Kristus. Kemudian mulai mereka menelusuri unsur kuasa kegelapan ditempat-tempat  persembunyiannya. Begitu dapat langsung manifestasi, ditengking beberapa saat dan lantas keluar. Dicari dibagian tubuh yang lain lagi, dapat langsung manifestasi, ditengking beberapa saat dan lantas keluar. Demikian berulang-ulang dengan perbagai bentuk dan identitas.

Malam itu teridentifikasi roh yang keluar diantaranya : siluman kucing, siluman harimau, siluman ular ( terdeteksi dari suaranya ), suara nenek-nenek yang mengaku sebagai nenek Gideon yang mengatakan, “ cucuku Gideon mengapa kau usir aku ? “

Kemudian suara nenek – nenek yang diajak komunikasi Gideon ( kalau tahu namanya akan lebih cepat keluar ~ Rebeca Brown ), dan roh itu mengatakan identitasnya, “ saya mbah Sragen “, tetapi setelah itu dari mulut Samuel keluar suara yang lain dengan sebuah hujatan.

Kemudian muncul roh yang mengaku utusan nyai Roro Kidul yang akan membawa roh Samuel ke kerajaannya. Dan tidak lama kemudian muncul roh yang mengatakan bahwa ia tidak akan pergi dari tubuhnya. Pada bagian yang lain ditemukan juga roh tertawa. Dan pada bagian yang tidak terduga juga ditemukan roh yang saat ditemukan mengatakan, “ Wah,.. tahu aja, kalau saya bersembunyi disitu “

Ini memang kelihatan sebuah lelucon yang tidak lucu. Bahkan bagaikan sebuah sandiwara murahan. Akan tetapi kembali kami sampaikan bahwa ini adalah potret yang terjadi saat itu. Malam itu.

Yah, secara fisik Gideon demikian lelah tetapi secara roh ia sangat semangat dalam memporak porandakan sarang setan yang bersembunyi pada tubuh anaknya. Gideon sangat yakin bahwa tidak ada kuasa kegelapan apapun yang tidak bisa dikalahkan selama bersama dengan Yesus. Maka sedikitpun ia tidak gentar, ia akan lawan sekalipun ancamannya adalah maut. Kalaupun ia Tuhan ijinkan menemui kematian, ia yakin kematiannya adalah suatu keuntungan, karena kematiannya adalah awal kebahagiaan bersama-sama dengan Yesus.

 Kembali kepada Samuel. Setelah demikian banyak setan-setandikeluarkan dari sela-sela punggungnya, ia bangkit berdiri dan berkomentar, “ Wah enteng sekali sekarang,.. memang tadi apa saja yang keluar dari tubuh Samuel “ Ayahnya menjawab, “ banyak,.. tanya saja pada mamamu “. Kemudian Yulia menjelaskan secara singkat apa saja yang keluar dari dalam tubuh Samuel.

Gideon bersyukur kepada Tuhan atas kebaikanNya memulihkan anaknya. Tetapi ada terbersit di dalam hati Gideon suatu tanda tanya walau awalnya samar-samar. Ia belum merasakan damai sejahtera. Tatapan mata Samuel masih liar, ia masih belum tuntas, demikian kata Gideon dalam hati. Maka ia segera ajak anaknya kembali berdoa dengan sikap duduk bersila berhadap-hadapan dan kedua telapak tangan saling ditempelkan.

 “ Ikuti kata-kata papa,.”. demikian Gideon mengajak Samuel sambil menatap tajam  mata anaknya. Rio mengangguk sambil menatap kembali mata ayahnya.

“ Saya,.. sebut namamu “ ayahnya mulai menuntun. Tetapi yang terdengar justru sebutan nama lengkapnya tanpa diawali dengan nama baptis, dan menyebutkan namanya juga salah-salah, ada unsur kesengajaan dipercepat agar tidak  ketahuan salahnya.

“ Ulangi,.. sebut namamu yang benar “ . Tetapi tetap tidak menyebutkan nama baptisnya.

“ Ulangi,.. sebut nama lengkapmu perlahan-lahan. “ Kali ini di ulangi perlahan -lahan tetapi tetap saja tidak disebutkan nama baptisnya.

“ Saya milik Yesus !! “ Gideon melanjutkan

“ Saya milik iblis,.. “ Samuel menyahut dengan cepat.

“ Saya milik Yesus !! “ Kembali Gideon mengulang.

“ Saya milik iblis,.. “ sahut Samuel sama.

Kemudian secara khusus Gideon didukung Yulia berdoa menengking kuasa kegelapan yang masih bercokol di dalam tubuh anaknya. Tidak lama kemudian kembali di uji,

“ Samuel milik siapa ? “

“ Milik iblis “

“ Samuel menolak siapa ? “

“ Menolak iblis “

“ Milik siapa ?

“ Iblis “

“ Menolak siapa ? “

“ Iblis “

Setan memang penipu ulung, demikian kata Gideon dalam hati,.. maka kembali Gideon berdoa dengan lebih sungguh-sungguh dan dengan kerendahan hati menyerahkan segala permasalahan ke tangan Tuhan Yesus Kristus. Biar Tuhan Yesus yang ambil alih peperangan ini.

Maka dengan dibantu Yulia, dioleskanlah minyak urapan pada kepala dan wajah Samuel. Kemudian ditengking berulang-ulang didalam nama Tuhan Yesus Kristus. Nampak reaksi yang luar biasa baik dari mimik wajah Samuel maupun hujatan-hujatan yang keluar dari mulut Samuel. Sambil menengking Gideon bertanya dengan suara keras, “ Samuel milik siapa ? “

“ Lucifer ! “ teriaknya.

Maka tengkingan demi tengkingan dilakukan dan akhirnya teriakan dan hujatan Samuel berakhir dengan kepala lunglai tergantung pada ujung lehernya. Iapun segera sadar dan menanyakan apa yang terjadi pada dirinya tadi. Kemudian Gideon menguji dengan Wahyu 20:10 dikatakan lima kali berturut-turut. Dan yang disampaikan Samuel tidak ada satupun yang salah.

“ Samuel milik siapa ? “ Gideon mendadak bertanya.

“ Yesus,.. “ sahut Samuel dengan cepat sambil tersenyum.

“ Menolak siapa ? “

“ Iblis dan perbuatannya “

Malam semakin larut bahkan sudah melewati tengah malam. Seisi rumah berkemas untuk memasuki tempat peristirahatan masing-masing dengan suatu pemahaman dan kepastian bahwa hidup mereka bukan lagi milik mereka melainkan milik Tuhan Yesus Kristus. Badai pasti berlalu. Ada masa menanam, ada masa menuai dan ada masa peperangan, ada pula masa yang penuh dengan kedamaian dan suka cita.

Bukan tidak mungkin esok atau lusa semuanya berakhir, karena langit dan bumi memang akan berlalu, tetapi Firman Tuhan tetap kekal selama-lamanya. Berbahagialah orang yang suci hatinya karena ia akan melihat Allah demikian yang dikatakan Tuhan Yesus pada Khotbah di Bukit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: