g. Lima Ajian,..

10 Juli 2005, pagi-pagi sekali Gideon sudah bangun. Ketika ia keberanda belakang, ternyata mas Budi kakaknya sudah terlebih dahulu duduk disitu. Ia nampak sedang menatap jauh kedepan seakan menembus rimbunnya dedaunan yang menari-nari di hadapannya. Ia nampak kusut karena memang belum mandi.

Kakaknya datang kemarin sore, bersama dengan istri dan anak terkecilnya Ragil.

Setelah saling menyapa, banyak cerita  terlontar pada kesempatan pagi itu termasuk ketika kakaknya menanyakan apakah Gideon sudah bisa melihat hantu dengan mata jasmani.

Kesempatan emas yang diberikan kakaknya tidak disia-siakan. Segera Gideon sampaikan karunia demi karunia yang Tuhan berikan kepada keluarganya. Secara khusus Gideon juga sampaikan apa yang dialami Wilbert, ketika rohnya diajak Tuhan Yesus ke Firdaus Allah, ke alam maut, kemudian ketika dibawa ke gunung yang sangat tinggi dan kemudian gunungnya mundur sehingga ia jatuh dan berkelahi dengan kawanan setan, tetapi akhirnya ditolong Roh Kudus.

Juga dikisahkan ketika Wilbert diajak Roh Kudus ke kaki neraka bagian kiri, dan pada kesempatan yang lain dibawa ke kaki neraka bagian kanan, dan ketika dibawa kekaki neraka bagian kiri Tuhan ijinkan tubuh Wilbert digunakan sebagai alat uji bagi keluarganya. Bagaimana kejadian yang dialami Samuel kakaknya selama 4 bulan, diulang pada malam itu dalam 5 jam non stop dengan urut-urutan yang sama. Dari level atau tingkatan rendah, pertengahan sampai tingkat tersulit bahkan ada beberapa ujian tambahan.

Gideon sampaikan pula siapa mereka yang dilihat Wilbert, di kaki kiri neraka ia lihat bagaimana sosok manusia yang berujud tulang belulang dirantai, kemudian tumbuh daging di sela-sela tulangnya, kemudian digerogoti ulat-ulat kemudian dibakar dengan api, kembali menjadi tulang, dan daging tumbuh lagi, dibakar lagi dan terus menerus terulang demikian. Kemudian juga di kaki neraka bagian kanan. Nampak hamba-hamba iblis disiksa disitu. Ada dukun, paranormal disiksa oleh setan yang ketika hidupnya di ikuti dan dimintakan pertolongan. Juga ada hamba Tuhan yang ketika hidupnya lebih mencintai uang daripada mencintai umat yang menjadi tanggung jawabnya.

Gideon tidak tahu apa yang ia sampaikan dianggap angin lalu atau bukan, atau justru dianggap bualan. Tetapi itu tidak terlalu dipikirkan Gideon, yang ia khawatirkan justru banyak ungkapan yang disampaikan kakaknya yang bernada mengutuk dirinya sendiri. Ia tidak menyadari bahwa setiap kata ataupun kalimat bahkan setiap pernyataan yang keluar dari mulutnya kelak harus dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan.

Bagaimana mungkin ia katakan bahwa ia lebih suka dikatakan “ orang gila “ atau dalam bahasa Jawa adalah degleng, dari pada dikatakan orang yang memiliki kelebihan. Ia tidak suka disanjung dalam arti positip itu tidak berarti ia lebih menyukai dikatakan dirinya “ degleng “.

Jauh dilubuk hati Gideon, timbul belas kasihan yang amat dalam. Ia tahu suara yang keluar dari mulut kakaknya bukanlah asli suara kakaknya. Tetapi suara roh dukun/paranormal yang selama ini lebih banyak menguasai hidupnya. Ia layak dikasihani, dan benar-benar harus segera dibebaskan dari tipu daya kuasa kegelapan.

Dalam pengakuannya ia andil dalam perbuatan dosa ibunya, bahkan secara gamblang dan sangat jelas ia katakan bahwa ibunya memiliki pegangan sehingga sangat menderita ketika masa-masa menjelang kematian beliau. Ia mengakui kesalahannya. Tetapi sayang tidak dibarengi dengan penyesalan yang seharusnya bisa mengubah cara hidupnya.

Pegangan yang dimaksud antara lain : Aji pameling,.. yang didapat ketika ibu masih muda, ajian ini memungkinkan seseorang memanggil dari jarak jauh. Selanjutnya adalah Aji pengrungu. Ajian ini memungkinkan seseorang yang menggunakannya mendengar suara yang orang biasa tidak mungkin bisa mendengarkan. Tidak bisa “dirasani “.

Selanjutnya adalah aji penggendam. Ajian ini membuat pemiliknya memiliki wibawa diatas rata-rata. Orang bicara apapun akan kalah pengaruh dengan orang yang memiliki ajian ini. Kemudian Ajian Pengasihan. Ajian ini memungkinkan seseorang yang memilikinya senantiasa mendapat belas kasihan/perhatian.

Dan yang terakhir yang justru pemasangannya di sponsori oleh mas Budi, adalah susuk “ Intan “ . Yang dimaksudkan untuk ketenangan bagi yang memilikinya.

Kesemuanya ini disampaikan dengan jelas oleh mas Budi, dan yang terakhir ini yang bisa mencabut hanyalah mas Budi. Dan setelah susuk terakhir dicabut, barulah ibunya dipanggil pulang. Dan orang yang berperan besar dalam pencabutan ajian dalam tabuh ibunya adalah bapak Dwijo yang juga saat resepsi ditemui Gideon. Beliau adalah juga kawan ibu Gideon ketika muda dulu, sehingga tahu persis apa yang dialami kawannya.

Malam sebelumnya, Wilbert mengatakan pada ayahnya bahwa dibelakang Pak De Budi, adalah roh dukun/paranormal. Dan perihal ini Gideon tidak sampaikan pada kakaknya. Tentu dengan berbagai alasan. Yang pertama tidak ingin ada kesan menghakimi, Gideon belum merasakan dorongan Roh Kudus untuk mengatakannya. Yang kedua biarlah Tuhan sendiri yang mengubah hatinya. Setelah benih-benih kebenaran Gideon taburkan, giliran Tuhan yang menumbuhkannya.

Ketika senja mulai menampakkan keberadaannya, sebuah hati kembali tergoda untuk mengaca. Ia memerlukan cermin kehidupan. Cermin yang jernih, yang rata dan menjelaskan apa adanya. HE mengungkapkan isi hati dan pemikirannya. Ia katakan,

“ Tuhan itu baik dan sungguh baik, andaikan istri saya sekarang sembuh,  mungkinkah akan sanggup menghadapi berbagai persoalan yang ada didepan  mata ? “

“ Kebaikan Tuhan tidak perlu diragukan, sayapun sudah merasakan hal itu “  jawab Gideon menimpali.

“ Rencana Tuhan tidak mudah diselami “

“ Tetapi Tuhan selalu memiliki rencana yang indah untuk umat yang dikasihiNya “

“ Ah,.andaikan ayah dan ibu lebih dulu mengenal Tuhan Yesus yang sebenarnya ”.

“ Andai waktu bisa diulang “

Gideon tiba-tiba terbayang masa-masa puluhan tahun yang lalu. Mereka 6 bersaudara. Memiliki dua orang tua yang dengan kasihnya mendidik mereka dengan kasih. Memperkenalkan kepada mereka pekerjaan Tuhan Yesus Kristus yang sekarang ini ada di dalam para rasul. Mereka mengikuti sekolah minggu, katekisasi, mereka aktif dalam paduan suara. Dan ketika mereka dewasa, ada yang menjadi dirigen paduan suara, ada yang menjadi pemangku jawatan, bahkan ada yang menjadi Prister penghantar pada suatu sidang.

Kemudian tiba pada suatu ketika dimana mulai ada gejolak didalam dada beberapa diantara mereka dalam waktu yang berbeda. Yang satu merasa bahwa ada yang nggak beres di dalam gereja yang selama ini ia ikuti. Apa yang nggak beres ? Ia bisa merasakan tetapi sulit untuk mengungkapkan, sehingga secara diam-diam ia gerilya mencari jawaban tentang ketidak beresan di dalam gereja tersebut.

Perbuatannya tercium oleh pemangku jawatan yang tingkatannya lebih tinggi sehingga turunlah surat pemecatan atas dirinya. Ia tidak sedih, bahkan bersuka cita karena saat itulah ia sudah mulai menemukan mengapa ia merasa tidak “sreg” pada gereja mula-mulanya. Petualangannya mencari kebenaran yang hakiki semakin berkobar-kobar. Karunia demi karunia, mujizat demi mujizat dia alami hari demi hari.

Peperangan iman tiap hari bukan semakin ringan tetapi justru semakin berat. Tetapi karena rasa dekatnya kepada Tuhan Yesus Kristus semakin ia rasakan sehingga ia jalani kehidupannya dengan lebih tegar dengan suatu keyakinan bahwa sepanjang Tuhan menyertai hidupnya, siapakah yang sanggup mengalah-kannya ?

Siapakah yang sanggup memisahkan dirinya dengan Tuhan Yesus sebagai Penebus dan Juruselamatnya ? Tidak ada satu kekuatan apapun didunia ini yang bisa lakukan itu. Jangankan saudara-saudaranya, setanpun tidak akan sanggup memisahkan dirinya dari kasih Tuhan Yesus Kristus. Ia tidak risau dengan keadaan istrinya. Ia sangat percaya Tuhan memberikan pemeliharaan yang luar biasa pada istrinya dan juga anak-anaknya.

Memang mas Budi pernah katakan perihal suara anak kecil di dalam telepon beberapa kali kerumahnya, dan mensinyalir bahwa itu suara anak yang pernah digugurkan istrinya, dan akibat perlakuan ibunya ia menjadi seperti sekarang ini. Tetapi yang diyakini adalah bahwa itu salah satu bentuk tipu daya setan.

Saat diyakini bahwa itu adalah suara anaknya, maka mulai timbul pengakuan bahwa anaknya menjadi arwah penasaran. Sebenarnya itu bukan suara anaknya melainkan suara setan. Jiwa anak yang pernah digugurkan istrinya sudah diserahkan kepada Tuhan Yesus Kristus, dan dipercayai bahwa jiwa dan roh anaknya ada didalam perlindungan Tuhan.

Lain lagi dengan Gideon. Ia bukan sosok yang mudah goyah. Ia tegar dalam setiap pendirian, ia bukan orang yang mudah percaya. Dan sangat gigih dalam mempertahankan suatu prinsip. Ia taat pada pesan ayahnya yang meminta pada anak-anaknya agar tidak merokok. Gideon mampu lakukan pesan ayahnya sehingga sampai tulisan ini dibuat ia tidak pernah tahu seperti apa rasanya merokok. Karena ia tidak pernah merokok sebatangpun.

Sepandai apapun orang merayu, ia tetap pada pendiriannya, bahwa ia tidak akan merokok seumur hidup seperti permintaan ayahnya. Bahkan pernah dalam suatu kesempatan ia katakan pada ayahnya bahwa apapun yang terjadi ia tidak akan keluar dari Kristen. Ia yakin bahwa hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus jawanya diselamatkan. Ia tetap pelihara dan pegang sampai saat ini.

Tiga tahun lamanya Tuhan mulai menggetarkan kehidupan rumah tangganya. Dimulai dari anak pertamanya. Dan kisah anak pertamanya inilah yang menjiwai terjadinya buku kesaksian ini. Kemudian di ikuti oleh kejadian anak keduanya. Dan apakah yang akan terjadi pada anak ketiga dan ke empatnya ?. Tuhan Yesus adalah sutradaranya. Semua itu Gideon serahkan kepada kasih Tuhan Yesus Kristus yang adalah sebagai Tuhan dan Juruselamat umat manusia terkhusus keluarganya.

Gideon dan HE bukan sosok yang egois, yang ingin mementingkan dirinya sendiri. Mereka ingin dan sangat rindu, saudara-saudaranya yang lain, mau tunduk dibawah kaki Yesus. Bertobat dan menerima Yesus sebagai Juruselamat satu-satunya. Mereka rindu saudara-saudaranya mau belajar dari kisah kehidupan orang tua mereka.

Wilbert mendapat penglihatan ketika dibawa Roh Kudus ke alam maut, bagaimana mbah kakung dan mbah putri dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Dan Tuhan menjelaskan mengapa mereka ditempatkan ditempat berbeda.. Mbah kakung masih mendukakan Tuhan Yesus karena tidak sepenuhnya percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Masih pergi ke paranormal. Mengapa ke paranormal ? Beberapa tahun sebelum akhir hayat beliau, beliau mengalami sakit kanker paru-paru. Ketika dokter memeriksa ternyata sudah stadium 3.

Beliau beberapa kali mendapat perawatan Rumah Sakit. Ditangani oleh dokter spesialis dari bermacam-macam bidang ilmu, untuk kesembuhan penyakitnya. Tetapi tidak kunjung sembuh. Malahan beberapa kali ke pengobatan alternatif. Dari satu tempat, ketempat yang lain dengan satu tujuan yaitu kesembuhan. Dari medis ke ramuan bahkan ke paranormal sudah didatangi. Satu yang beliau tidak lakukan yaitu memohon kesembuhan ilahi dengan sepenuh hati dan sungguh sungguh.

Bila Gideon ingat perihal ayahnya. Ingin ia ubah sejarah, ingin ia putar balik perjalanan waktu, agar ia memiliki kesempatan memperkenalkan ayahnya pada kesembuhan ilahi. Dengan lebih dahulu ia kenalkan pada Yesus Kristus yang sesungguhnya. Ia yang memiliki kuasa kesembuhan. Ia yang adalah tabib segala tabib, karena Ia adalah Sang Pencipta itu sendiri. Bertahun-tahun ayahnya menjadi orang Kristen, tetapi ia tidak mengenal siapa Yesus Kristus dan kuasanya, ayahnya lebih mengenal para pemangku jawatan. Beliau tidak menyadari bahwa para pemangku jawatan adalah seorang manusia. Dan Alkitab menulis bahwa terkutuklah orang yang mengandalkan manusia dan mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi diberkatilah orang yang mengandalkan segala sesuatunya kepada Tuhan.

Tragisnya lagi bahwa ayahnya merasa memiliki Roh Kudus, tetapi roh kudus yang ia miliki dan yakini, tidak pernah diajak komunikasi, sehingga ayahnyapun tidak pernah menguji roh yang ada didalam kehidupannya, Roh Kudus asli ataukah aspal yang ada didalam dirinya.

Sementara Gideon mengingat ayahnya, tanpa disadari bayangan sosok wanita penuh dengan penderitaan jalan tertatih-tatih membuka pintu dapur dan tertawa kecil sambil menyapa Gideon dengan kasihnya. Gideon menyadari betul bahwa ibunya dengan kondisi bekas menderita struk beberapa tahun yang lalu, mengisi masa-masa hidupnya tanpa pendamping seorang suami, dilalui beliau dengan penuh penderitaan. Gideon merasakan betapa ibunya sangat mengasihi anak-anaknya. Sehingga segetir apapun derita yang dipikulnya, beliau mampu menutup dengan senyum yang khas.

Duka yang teramat dalam sepeninggal suaminya yang juga ayah Gideon, membuat tatapan matanya terkadang kosong, “ Saya ingin menyusul ayahmu “

Demikian beberapa kali beliau katakan bila anak-anaknya mengunjunginya. Kehidupan pribadi beliau yang cenderung tertutup bagi anak-anaknya, nyaris membuat semua mata anak-anaknya menganggap bahwa beliau adalah orang yang kudus di mata Tuhan.

Tetapi Tuhan adalah Tuhan yang sangat sempurna, tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan siapapun manusia itu adanya. Kebenaran Tuhan adalah sempurna, dan tanpa kompromi dengan siapapun. Akhirnya selapis demi selapis Tuhan singkapkan siapakah dibalik kehidupan ibu Gideon sebenarnya dan apa yang melatarbelakanginya, serta siapa yang berperan saat beliau lakukan perbuatan yang mendukakan Tuhan.

Andai waktu bisa di ulang, andai Gideon mengenal Tuhan Yesus Kristus lebih awal, andai mereka mengenal siapakah Tuhan Yesus Kristus sebenarnya, maka Wilbert akan melihat mbah kakung dan mbah putrinya ada di Firdaus Allah.

Ketika seraut wajah sirna bersama munculnya warna lembayung di ufuk barat, kaki yang mulai terasa kaku, meneruskan langkah-langkah yang pasti. Ia katakan dalam hati bahwa baginya Tuhan itu sangat baik, sungguh baik dan kasihNya tak berkesudahan. Kalaupun ia masih menghirup udara itupun karena belas kasihNya semata. Ia tahu, Tuhan sangat rindu umat yang dikasihiNya datang kepadaNya dengan sepenuh hati, tidak setengah-setengah. Karena Tuhan itu pencemburu. Tuhan mau kita hanya menyembahNya. Tuhan mau kita tinggalkan manusia lama dan masuk menjadi manusia ciptaan yang baru.

Sebelum terlambat, mari,.. manusia lama kita yang masih mendukakan Tuhan Yesus Kristus dilepaskan segera. Roh dukun-dukun, roh paranormal, segera lepaskan. Roh yang senantiasa mengandalkan manusia juga dilepaskan. Roh Kejawen juga dilepaskan. Mari datang kepada Tuhan Yesus Kristus memohon ampun dan belas kasihNya. Tiba saatnya Tuhan kenakan pakaian perlengkapan rokhani.

Biarlah Tuhan kenakan ketopong keselamatan, baju zirah keadilan, ikat pinggang kebenaran, juga melengkapi perisai iman dan pedang Roh, serta kaki yang bertalikasutkan kerelaan dalam memberitakan injil perdamaian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: