c. Muncul Nyai Sragen,..

1 Nopember 2005 pukul 23.00 Gideon AS beserta Samuel R meluncur ke Pekalongan menggunakan sepeda motor berboncengan. Tidak ada hal-hal yang menarik sepanjang perjalanan, dan sampai ke tempat tujuan 11 jam kemudian. Langsung menuju ke Rumah Sakit.

Saat sampai ke bangsal dimana mertua Gideon AS dirawat, nampak betapa lemah fisik mertuanya. Samuel R yang sudah membasahi tangannya dengan minyak urapan, mengusapkannya pada dada eyang kakungnya sambil mengatakan,

“ Yang kakung,.. apakah bagian ini yang sakit ? “

“ Iya, dan kadang-kadang sesak kalau untuk nafas “ jawab eyang kakungnya  tetap tenang.

Juga Samuel R memperhatikan kantong darah yang tergantung di samping eyang kakungnya. Sudah beberapa kantong darah diperlukan untuk transfusi, karena Hb-nya rendah sekali. Samuel R berdoa kepada Tuhan agar darah di dalam kantong yang sedang ditransfusikan kepada eyang kakungnya, Tuhan ubahkan menjadi darah Yesus.

Gideon AS dan Samuel R menyadari bahwa selama ini eyang kakung maupun eyang putri Samuel R, masih menganggap bahwa apa yang terjadi pada keluarga Gideon AS akibat kekurang percayaan mereka kepada Tuhan. Mereka menganggap bahwa keluarga Gideon AS mencla-mencle, tidak punya iman, buktinya yang lainnya tidak ada yang seperti Samuel R maupun Obaja W begitu ungkap mereka ketika Gideon AS mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada keluarganya.

Namun hal yang aneh Gideon AS rasakan adalah mereka tidak mau bertanya mengenai apa yang dialami keluarga Gideon AS. Mereka hanya menerima informasi, tanpa mau menggali mengapa anak dan menantu serta cucunya dari keluarga Gideon AS “ menyimpang “ dari jalan semula. Jangankan menguji, bertanya yang lebih detailpun mereka tidak lakukan.

Perihal ini Gideon AS teringat perumpamaan Tuhan Yesus dalam Matius 13:45-46 ( Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu “ ) Gideon AS sudah menemukan mutiara yang sangat indah itu, sehingga apa yang pernah melekat di dalam kehidupan lamanya ditanggalkannya, demikian pula dengan istri dan anak-anaknya.

Masih pada hari yang sama, sore harinya Gideon AS dan Samuel R melanjutkan perjalanan ke arah Magelang, untuk mengunjungi HR adiknya, yang saat terakhir mereka tahu istrinya masih belum dipulihkan Tuhan dari belenggu kuasa kegelapan. Kurang lebih pukul 21.00 mereka sampai di tempat tujuan. Saat pintu diketuk, baru saja HR selesai doa malam. Pertemuan yang indah, karena mereka sudah sehati, sama-sama sudah menemukan mutiara yang sangat indah.

Kalau boleh dikatakan obrolan, ya mereka ngobrol demikian mengasyikkan sampai lewat tengah malam tidak terasa lelah maupun mengantuk. Masing-masing mengisahkan apa yang selama ini mereka alami, mereka rasakan dan mereka gumuli. Percakapan mereka demikian menyatu dan “ nyambung “ .

Ke esokan harinya, mereka sepakat bersama-sama ke Kebumen. Dan pagi itu Gideon AS dan HR ber-iringan ke Kebumen. Di tempat yang dituju yaitu di kediaman mertua HR tidak ada hal-hal yang menarik, selain rasa rindu seorang ayah kepada anaknya yang jarang sekali dijumpainya, juga di rumah Ririn di Lirap, mereka rasakan pembicaraan mereka hanya sekedarnya saja. Kalau mau diajak berbicara hal-hal yang rokhani “ nggak nyambung.” Itu yang Gideon AS rasakan.

Justru ketika berada di rumah Bp. Dalimin di Karangglonggong, banyak hal beliau sampaikan khususnya yang berkaitan dengan KKR beberapa waktu yang lalu. Beliau yang membawa beberapa orang yang menggunakan jilbab. Dua yang dibawa. Satu orang mengalami kesembuhan total dimana asam urat yang selama ini mengganggu kakinya sampai ia tidak bisa berjalan tidak lagi mempengaruhi kakinya. Kakinya mendapat kesembuhan dan rasa sakitnya menjadi hilang dan benar-benar bebas, tetapi yang satunya tidak sembuh, karena setelah KKR ia juga pergi ke paranormal. 

Juga ketika Gideon AS menemui ibu Rut di rumahnya, ia mengisahkan peristiwa KKR di Klaten belum lama ini. Seorang wanita dirasuk kuasa kegelapan. Dan kuasa kegelapan yang merasukinya berbicara mengenai semakin dekatnya waktu Tuhan untuk datang kembali menjemput milikNya yang didapati setia dan patut. Kuasa kegelapan itupun membeberkan rencananya yang bertekad membawa pengikut sebanyak-banyaknya. Ia juga tahu dan juga menjelaskan di dalam kekhawatirannya bahwa Tuhan Yesus sekarang ini sedang menurunkan mujizat demi mujizat dan kuasa untuk menarik kembali orang-orang yang dirampas kuasa kegelapan. Beberapa jam diperlukan untuk mengusir kuasa kegelapan itu.

Ke esokan harinya Gideon AS dan Samuel R mendapat khabar dari Rina adik iparnya yang menunggu rumah orang tuanya di Sragi yang menyatakan bahwa hari ini ditunggu di Pekalongan karena persediaan darah sudah menipis. Karena berita itulah maka rencana ke Jogjakarta di tunda. Mereka segera berangkat ke Pekalongan melalui Wonosobo, dataran tinggi Dieng dan akhirnya sampai ke rumah mertuanya di Sragi. Baru setelah beberapa waktu beristirahat, Gideon AS meluncur ke Rumah Sakit dimana mertuanya  dirawat.

Di Rumah Sakit sudah ada Joko kakak ipar Gideon AS dan juga Budi adik ipar Gideon AS juga dan Lina yang dipersiapkan menjadi donatur. Dan malam itu Gideon AS menginap di Rumah Sakit menemani ibu mertuanya yang beberapa kali sempat pingsan karena kelelahan dan kurang tidur. Ketika ada kesempatan Gideon AS berbicara demikian dekat dengan ayah mertuanya, maka kesempatan itu tidak disia-siakan.

Gideon AS berbicara mengenai KKR di Kebumen dan peristiwa yang mengikutinya, juga berbicara pertobatan seorang pengasuh pesantren yang senantiasa merindukan jalan yang lurus, sampai pada suatu ketika mendapat karunia dimana ia melihat sinar yang demikian terang merasuki tubuhnya. Dan saat itu ia selalu berkeinginan bercerita kepada siapapun di dekatnya dan mengatakan bahwa Isa Almasih sudah merasuki tubuhnya. Benturan demi benturan dihadapinya termasuk anak-anaknya, tetapi ia tidak menjadi takut sekalipun anaknya merencanakan akan membunuh dirinya. Ia tidak takut mati, karena ia yakin rohnya akan diterima Yesus.

Namun pembicaraan Gideon AS tidak dilanjutkan, karena saat itu muncul kakak dan adik iparnya. Stop !,.. tunda dulu demikian kata Gideon AS dalam hati. Malam itu Gideon AS rasakan serangan sakit pada lutut kaki kiri persis seperti ketika asam uratnya mengganggu. Samuel R memang meminta agar ia kembali pulang ke Sragi, tetapi ia tidak menghiraukannya karena ia pikir anaknya minta ditunggu ayahnya terus. Belakangan ia mendapat pengetahuan bahwa itu bukan sebatas permintaan seorang anak pada orang tuanya melainkan lebih dari itu.

Lutut kaki yang sakit demikian mengganggu, sehingga ia mengambil minyak urapan dari kantong saku celananya dan segera di oles pada tempat yang sakit dan segera ia merebahkan diri untuk tidur. Dan ketika bangun pada kurang lebih pukul 04.00 pagi, ia bisa rasakan bahwa rasa sakit pada lutut kaki kirinya sudah lenyap. Puji Tuhan.

Akhirnya mereka yaitu Joko, Wargo dan juga Gideon AS pamit pulang ke Sragi.

Dan pagi itulah Gideon AS berkesempatan memberitakan apa yang selama ini terjadi pada keluarganya. Proses dari mulai kejadian pertama sampai sekarang ini. Ia sampaikan mengapa ia dan keluarganya menyeberang dari keyakinannya yang semula. Juga disampaikan bagaimana karunia demi karunia Tuhan berikan kepada anak-anak dan juga istrinya. Secara lengkap Gideon AS sampaikan kepada kakak iparnya sekalipun hanya garis besarnya saja. Namun rangkaian peristiwa yang mengikutinya dijelaskan demikian gamblang. Gideon AS melihat dan juga merasakan kakak iparnya memberikan respon yang baik paling tidak mau menjadi pendengar yang baik. Benih kembali tertabur biarlah Tuhan yang menumbuh kembangkan demikian pikir Gideon AS sambil berjalan beriringan dengan kakak iparnya kembali memasuki rumah.

Gideon AS sambil menikmati sarapan pagi yang disediakan Rina, merenungkan apa yang disampaikan kakak iparnya yaitu mas Joko, mengenai Semarang kelabu, mengenai adik ibunya yang paling bungsu dengan berbagai permasalahannya, mengenai penglihatan Berlin keponakannya yang sama dengan yang dilihat H. Bensah mengenai tanduk yang ada di kepala Rsl. D. Alfs.

Bila saja mereka tahu dan mengenali siapakah yang diandalkan selama ini. Bila saja mereka tahu isi Jeremia 17 : 5 masihkah mereka dengan rela hati mengandalkan diri mereka pada manusia dan mengandalkan dirinya sendiri ?  Mengapa mereka lebih mengenal para pemangku jawatan dari pada pengenalan mereka atas Tuhan Yesus Kristus ? Bagaimana mereka akan mendapatkan mukjizat kalau mereka tidak mengenal Tuhan Yesus lebih dekat lagi ?. Mereka membawa Alkitab, tetapi mengapa hanya mengandalkan manusia untuk mengungkapkannya, mengapa tidak mengandalkan diri kepada Tuhan agar memperoleh berkat yang berkelimpahan baik berkat jasmani dan terlebih berkat rokhani. ( bandingkan dengan Jeremia 17:7-8 )

Bila saja mereka membaca dan mencari kebenaran firman demi firman di dalam Alkitab, maka mengapa harus menjadi heran ketika mendengar bahasa roh, kemudian nubuat-nubuat di sampaikan ? ( Kisah Para Rasul 2:17-21 ). Mengapa menjadi ketakutan dan gemetar ketika dihadapkan pada orang yang kerasukan setan ? Bukankah dengan sangat mudah dipahami apa yang tertulis dalam Markus 16:14-18. ?

Sulit bagi mereka menerima kenyataan bahwa kuasa Tuhan masih tetap berlangsung, baik dahulu, sekarang dan yang akan datang. Bukankah Firman Tuhan adalah Ya dan amin. Bukankah langit dan bumi akan berlalu tetapi Firman Tuhan tetap kekal selama-lamanya ? Mujizat yang pertama kali dinyatakan Tuhan Yesus Kristus adalah perjamuan perkawinan di Kana. Tuhan ubahkan air menjadi anggur. Apakah menjadi aneh dan mustahil apabila air Tuhan ubahkan menjadi darah Yesus ? Apakah yang mustahil bagi Tuhan ? Apakah anak-anak Tuhan bisa lakukan mukjizat itu ? ( Lihat  Yohanes 1:12 )

Bila saja mereka mau mengerti bahwa Tuhan bukanlah Tuhan yang jauh melainkan Tuhan yang sangat dekat, bila saja mereka menyadari bahwa Tuhan adalah satu-satunya penolong yang sanggup membebaskan diri manusia dari klaim si jahat, maka tidak akan mereka lari ke dukun, ke paranormal, dan kepada siapapun yang masih golongan manusia.

Betapa indah, betapa menyenangkan dekat dengan Tuhan Yesus Kristus, bercakap-cakap dengan Roh Kudus dengan mesra. Dan ketika saat itu tiba,.. muncul kerinduan yang teramat sangat selalu ingin bertemu dan bertemu, bercakap-cakap terus menerus dan ingin segera bersama-sama senantiasa dengan Tuhan Yesus Kristus. Buah dari itu semua adalah betapa yang bernama kematian bukan sesuatu yang menakutkan. Bahkan siap kapanpun Tuhan kehendaki, karena tahu kemana ia akan pergi dan dimana ditempatkan.

Setelah istirahat beberapa saat lamanya, Gideon AS dan Samuel R mempersiapkan diri ke Muntilan.  Sementara mereka berkemas, mendapat berita dari Rumah Sakit bahwa kondisi mertua Gideon AS sudah semakin baik, bahkan sudah bisa duduk. Kurang lebih pukul 16.00 mereka meninggalkan Sragi menuju Muntilan.

Kurang lebih pukul 20.00 mereka sampai ke tempat yang dituju. Suasana sudah sepi dan segera pintu di ketuk, tidak lama kemudian pintu dibuka oleh mas Joko yang cukup terkejut ketika melihat Samuel R keponakannya berdiri didepan pintu. Akhirnya keluarga mas Joko juga termasuk mas Bambang menemui mereka di ruang tamu.

Beberapa saat setelah Samuel R selesai menikmati makan malamnya yang ke dua, terjadi peristiwa yang sebenarnya kalau dicermati memiliki makna yang sangat khusus, yang ditujukan untuk mas Joko. Lengkap kejadiannya sebagai berikut, :

Sebagaimana layaknya orang kekenyangan, Samuel R merebahkan diri setengah duduk di sofa. Sepertinya ia mendekati tidur, kemudian Gideon AS perintahkan agar ke kamar saja kalau mengantuk. Samuel R tidak merespon sama sekali. Namun beberapa kali sekalipun mata tertutup, tangannya membuat gerakan seperti orang yang sedang merapalkan ilmu tertentu. Gideon AS cukup terkesiap melihat anaknya seperti itu. Namun ia tetap tenang dengan keyakinan bahwa Tuhan ijinkan itu terjadi dengan maksud-maksud tertentu.

Tiba-tiba Samuel R bangkit dari posisi tidurnya. Mata dengan pandangan liar. Wajah tanpa mimik dan ekspresi sama sekali. Ia berjalan menuju keluar rumah dalam pengawalan ayahnya. Sampai di depan rumah ia menunjuk ke arah depan sambil mengatakan :

“ Itu kerajaan saya “ terdengar suara dari mulut Samuel R

“ Kamu siapa ? “ Tanya Gideon AS tenang,

“ Nyai Sragen “ jawaban keluar dari mulut Rio

“ Bicara yang benar “

“ Saya anak buah Nyai Sragen “ kembali keluar jawaban.

“ Sekali lagi bicara yang benar, “ Tanya Gideon AS dengan tegas sambil memberikan isarat pada kakak

  iparnya yang tidak jauh berdiri di dekat mereka agar mendekat.

“ Masih ingat apa yang saya sampaikan tadi pagi ? “ Tanya Gideon AS pada kakak iparnya.

“ Masih ! “ jawab yang ditanya pendek.

Ketika kakak ipar Gideon AS mendekat, Samuel R berusaha berjalan keluar halaman, namun segera dicegah Gideon AS, yang segera membawa Samuel R masuk ke dalam rumah. Kemudian dibawa ke ruang tamu kembali dan didudukkan pada sofa dimana semula Samuel R duduk. Mulai rasa ingin tahu Gideon AS mendorong dirinya mengajukan beberapa pertanyaan. Walaupun ia sadar ia berhadapan dengan sosok yang biasa berdusta.

“ Siapa kamu sebenarnya dan kamu berasal dari mana ? “ Gideon AS beruntun mengajukan pertanyaan.

“ Saya adalah anak buah Nyai Sragen seperti yang tadi saya ucapkan “

“ Jawab dengan jujur, dan kalau kamu berdusta saya akan meminta Tuhan Yesus agar mengirimkan malaikat Mikhael untuk melemparkan kamu ke jurang maut. “

“ Saya berasal dari lukisan itu “ kata Samuel R sambil telunjuk tangan kanan menunjuk ke arah sebuah lukisan di dinding. Sebuah lukisan foto seorang pria dengan ukuran cukup besar.

“ Apa maksud kamu memasuki tubuh anak ini ? “ Tanya Gideon AS dengan sorot mata tajam.

“ Tuhan Yesus sudah mengijinkan ini terjadi untuk mendidik keluarga disini, bagaimana setan itu bisa merasuki seseorang dan juga untuk memberikan pengajaran rokhani pada keluarga disini.”

Gideon AS renungkan sejenak apa yang Samuel R sampaikan. Sejenak memperhatikan kesan kakak iparnya dan juga mas Bambang. Sekilas nampak mereka tertegun, dan sepertinya sedang merenungkan apa yang sebenarnya tengah dihadapinya. Antara percaya dan tidak, antara yakin dan ragu, antara realita dan alam maya, sangat nampak tergambar dari raut wajah mereka. Namun apapun yang Gideon AS lihat, ia kembali focus pada Samuel R.

“ Tinggalkan tubuh anak ini dan kembalilah ke asalmu “

“ Tidak !! “

“ Saya hitung sampai 10 kalau tidak juga meninggalkan tubuh anak ini, maka saya akan meminta malaikat Mikael agar melemparkan kamu ke jurang maut “ Gideon AS mulai dengan hitungan 1, 2, 3, 4 ……..

“ Ya, ya,.. saya akan kembali ke lukisan itu “

“ Segera lakukan !! “ perintah Gideon AS yang tetap  meneruskan hitungan

“ Iya, ….. berikan anak ini minyak urapan ! “ jawab dari mulut Samuel R

Maka segera Gideon AS mengambil minyak urapan dari saku celananya, dan segera mengoleskannya pada dahi Samuel R dibarengi dengan doa penengkingan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Saat itu juga Samuel R terjungkal ke belakang. Dan tidak lama kemudian segera membuka mata sambil berkata,

“ Enak sekali tidur saya “

“ Apa yang terjadi pada tubuhmu ? “ Tanya ayahnya sambil tersenyum

“ Setelah makan tadi saya mengantuk, dan saya tidur. Baru saja bangun, memang apa yang terjadi pada tubuhku ? “ malahan Samuel R bertanya. Dan ayahnya memberitahukan apa saja yang terjadi pada tubuh jasmaninya.

Sesaat hening sejenak, seakan tenggelam kedalam angan masing-masing yang duduk di ruang tamu. Ada rasa ingin tahu, ada yang bagaikan tidak mempercayai apa yang dilihatnya, namun ada yang tidak tahu apa-apa. Gideon AS merenung sejenak kemudian memohon ijin tuan rumah untuk berdoa, memuji dan menyembah Tuhan. Tuan rumah dengan ramah mempersilakan Gideon AS dan anaknya untuk berdoa, bahkan meminjamkan Alkitab kepada mereka berdua.

Sebentar kemudian Gideon AS dan Samuel R tenggelam kedalam suasana hadirat Tuhan. Berdoa dan memuji serta menyembah Tuhan. Dan ketika penyembahan selesai, kembali Roh Kudus menggunakan mulut Samuel R untuk menyampaikan beberapa pesan dan juga nasehat serta teguran yang ditujukan khusus untuk keluarga mas Joko. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, ketika memberikan nasehat maupun teguran melalui ayat Alkitab yang spontanitas disampaikan dengan demikian lancar. Pertanyaan banyak diajukan oleh mas Bambang, dan mendapat jawaban juga melalui ayat Alkitab.

Sampai akhirnya mas Bambang kehabisan pertanyaan. Dan Samuel R kembali menjadi dirinya sendiri.

Malam kian larut, mas Joko sepertinya tidak lagi tahan menahan kantuk sehingga lebih dahulu pamit ke kamar untuk istirahat, maklum habis jaga malam dirumah sakit.  Samuel R pun sudah merebahkan badannya di sofa dan tidak lama kemudian terdengar dengkurannya. Hanya tinggal mas Bambang dan Gideon AS yang masih asyik terlibat dalam pembicaraan khususnya yang berkaitan dengan apa yang dialami Samuel R, baik ketika kemasukan kuasa kegelapan maupun ketika mulutnya dipakai Roh Kudus.

“ Apa mas Bambang melihat apa yang terjadi pada Samuel R adalah rekayasa dan kepura-puraan atau katakanlah sebuah sandiwara ? “ Gideon AS dengan hati-hati mencoba mendapatkan tanggapan.

“ Sepengetahuan saya dan yang juga saya rasakan, peristiwa itu adalah benar-banar asli “ komentar mas Bambang sambil mengangguk anggukkan kepalanya.

“ Mengenai apa yang terjadi pada Samuel R tidak mudah untuk orang mempercayai, bahkan banyak orang yang menganggap bahwa itu adalah sebuah permainan belaka “ papar Gideon AS mencoba memberikan penjelasan.

“ Saya sudah tua, dan sudah lama menggeluti Alkitab, tetapi kalau untuk mencari ayat yang tepat dan cepat untuk sebuah pertanyaan tentu saja saya tidak bisa, tetapi melihat Samuel R tadi, saya yakin bahwa Roh Kudus menguasai mulutnya sehingga dengan demikian mudah memberikan pasal maupun ayatnya di dalam Alkitab sampai saya tidak lagi bisa mengajukan pertanyaan. Saya yakin sekali bahwa Samuel R dipakai Roh Kudus untuk memberikan jawaban setiap pertanyaan yang diajukan “ demikian mas Bambang memberikan penjelasan pada Gideon AS.

Demikianlah kedua orang itu demikian hangat dalam tukar pikiran sampai tidak terasa waktu sudah mendekati tengah malam. Akhirnya Gideon AS pamit mohon diri untuk istirahat, mengingat  esok pagi masih akan mengadakan perjalanan ke Jogjakarta ke rumah kakaknya yang biasa dipanggil mas Budi.

Pagi-pagi sekali Samuel R sudah membangunkan ayahnya untuk mengajak doa pagi. Sekalipun masih mengantuk Gideon AS paksakan diri untuk bangun dan bangun dari tidur lelapnya. Dan setelah menikmati sarapan pagi yang disediakan keluarga mas Joko, Gideon AS dan Samuel R pamit mohon diri untuk melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta. Beberapa kali berputar-putar kota Jokjakarta, akhirnya mengitari rumah mas Budi untuk menebarkan minyak urapan di sepanjang perjalanan. Namun sebelumnya Gideon AS dan Samuel R berhenti di sebuah gardu di dekat rumah mas Budi untuk berdoa dan memuji Tuhan serta menyembah Tuhan sebelum bergerak menebar minyak urapan. Dan sebelum menemui mas Budi mereka menemui adik Gideon AS yang paling bungsu yang mereka sebut Abet.

Justru ketika bertemu dengan Abed inilah Gideon AS lebih banyak menebar kesaksian tentang apa yang dialami keluarganya. Abed kemukakan kepahitan kehidupannya yang demikian menghimpit, meluruhkan semua harga dirinya sebagai seorang suami. Ia sangat terpukul sehingga meminta waktu untuk sejenak menyeka air matanya. Gideon AS banyak kemukakan betapa selama ini Tuhan Yesus mendidik dirinya, menempa dirinya sedemikian rupa dan juga anak-anak dan istrinya. Akhirnya Gideon AS memberikan solusi kepada adik bungsunya agar segera bangkit dari keterpurukannya. Dan satu-satunya jalan dan jawaban adalah Yesus Kristus.

Beberapa waktu kemudian Gideon AS minta agar Abet mengambil Alkitab dan mencari tempat agar leluasa membicarakan perihal kebaikan dan kasih Yesus yang sangat luar biasa. Dan akhirnya mereka menemukan sebuah tempat dibawah pohon dengan tumpukan batu-batu kali dibawahnya. Gideon AS memulai dengan doa dan pujian serta penyembahan dengan sepenuh hati, sekalipun lokasi mereka diatas bebatuan yang kurang nyaman, namun urapan Tuhan sungguh terasa sangat luar biasa.

Setelah penyembahan, kembali karunia Tuhan turun atas mereka dimana Roh Kudus mengambil alih mulut Samuel R. Teguran dan nasehat disampaikan melalui ayat-ayat Alkitab. Urapan demi urapan mengalir demikian luar biasa bahkan ketika Samuel R bangkit membelai kepala Abet dari belakang mengatakan bahwa dosa-dosanya sudah diampuni dan dikatakan agar jangan berbuat dosa lagi.

Pertanyaan demi pertanyaan disampaikan Abed. Dan pertanyaan yang disampaikan seputar derita dan kepedihan hidupnya. Rasa khawatir karena selama ini masih beberapa kali berhubungan dengan dukun ataupun paranormal, juga pernah di rendam dalam air kembang walaupun sebelumnya pernah mengikuti baptis selam di suatu gereja. Dan melalui ayat Alkitab Roh Kudus memberikan jawabannya dengan telak.

Sebelum berakhir kembali Abet bertanya bagaimana agar bisa komunikasi dengan Roh Kudus seperti Samuel R dan Gideon AS kakaknya, dan mendapat jawaban agar mencari kerajaan sorga beserta dengan kebenarannya terlebih dahulu baru karunia yang lain akan ditambahkan. Yang penting adalah hidup kuduslah senantiasa, kemudian hanya mengandalkan Tuhan saja kalau ingin hidupnya diberkati. Jangan sekali – kali mengandalkan manusia siapapun manusia itu dan jangan mengandalkan diri sendiri karena yang seperti itu dikutuk Tuhan ( Yeremia 17: 5 )

Ketika Abed bertanya bagaimana menghadapi kekelaman diseputar hidup dan lingkungannya, mendapat jawaban bagaimana kuasa Yesus mampu mengubahkan air menjadi anggur. Yesus sekarangpun sanggup mengubahkan air menjadi darah Yesus, hal inilah yang sering digunakan Gideon AS dalam menghadapi kuasa kegelapan. Dan ingatlah akan pengajaran Tuhan Yesus mengenai sikap lemah lembut dan rendah hati.

Setelah selesai, Abet berpesan agar tidak membicarakan apa yang dialami sekarang ini dengan kakak tertuanya, dan Gideon AS memahami atas sikap adik terkecilnya. Perlu waktu dan pergumulan panjang untuk menyingkap kabut yang selama ini menyelimuti kakak tertuanya. Dan dengan langkah yang pasti serta rasa lega, mereka tinggalkan tempat bersejarah untuk menyebar ke tujuan masing-masing.

Akhirnya Gideon AS langsung menuju rumah mas Budi, dan kembali ia dengar kakaknya berkelakar dengan mengutuk dirinya sendiri. “ Aku ini masih degleng “ demikian terlontar ungkapannya ketika menjelaskan bahwa ia sedang menggemari buku yang berisi ajaran jawa, ajaran para leluhur dalam sebuah judul buku.

Sore harinya Gdeon AS dan Samuel R meneruskan perjalanan ke Magelang karena merencanakan ikut persekutuan doa di daerah Muntilan. Hampir saja HR berangkat ke Muntilan, Gideon AS dan Samuel R sampai di depan rumah sehingga mereka bersama-sama berangkat beriringan ke daerah Muntilan. Sampai di tempat yang dituju ternyata acara sudah dimulai, dan segera menggabungkan diri diantara mereka.

Beberapa waktu dalam penyembahan Samuel R masih ikut dengan aktif, namun tidak lama kemudian segera tertidur merebahkan diri di pundak ayahnya. Sampai menjelang acara selesai diam-diam Gideon AS mengurapi Samuel R dengan minyak urapan sehingga ia sadar kembali.  Dan ketika mereka pulang kembali ke Magelang ke rumah HR, Samuel R mengatakan bahwa ketika acara di Muntilan tadi, rohnya meninggalkan tubuhnya berdoa bersama-sama dengan Pdt. Bp. Yesaya Pariaji. Dan ia lakukan itu karena ia merasa ditengah-tengah acara tadi dirinya tidak merasakan urapan Roh Kudus. Dan seorang ibu memberikan kesaksian bagaimana di dalam alam roh ia melihat seekor ular besar ditengah-tengah mereka yang sedang ada dalam penyembahan kepada Tuhan Yesus Kristus.

Ke esokan harinya Gideon AS beserta Samuel R melanjutkan perjalanan ke Bekasi melalui Bandung, karena mereka merencanakan mampir ke Bandung lebih dahulu untuk menemui saudara-saudara dari pihak istri Gideon AS. Namun ternyata waktunya tidak memungkinkan untuk mampir sehingga terus langsung ke Bekasi.

Ada hal yang perlu dicatat ketika melewati Bandung, Samuel R melihat seorang wanita dan terus melihat wanita itu sampai hilang dari pandangannya. Tidak lama setelah itu beberapa kali ia rentangkan tangannya sambil mengatakan bahwa dirinya harus berhenti sekarang juga karena tubuh anak ini sudah lelah. Gideon AS terkesiap mendengar apa yang terlontar dari mulut anaknya. Ia tiba-tiba merasa bahwa ia menggendong sesuatu selain anaknya. Ia katakan, “ Siapa kamu yang masuk ke tubuh anakku ? “

“ Saya roh pemerkosa “ jawab dari mulut Samuel R. Lalu kemudian ia lanjutkan, “ hentikan motor ini sekarang juga, dan kalau tidak mau maka saya akan celakai anak ini “

“ Dalam nama Yesus Kristus, saya mengundang Malaikat Mikael untuk menghadapi kuasa kegelapan apapun bentuknya yang bertengger pada anak saya “ teriak Gideon AS sambil tetap melarikan motornya menerobos kota Bandung. Beberapa kali Gideon AS berteriak di tengah-tengah keramaian jalan.

Tidak lama kemudian Samuel R menjadi tenang, dan tiba-tiba mencolek punggung ayahnya dengan mengatakan,

“ Sudah lapar nih pah, kapan kita makan ? “

“ Sebentar lagi, kalau menemukan masakan Padang “ jawabnya tenang.

Ketika menemukan rumah makan, mereka berhenti dan mampir, tetapi tidak jadi masuk karena beberapa lauk yang di inginkan  Samuel R ternyata sudah habis. Baru ketika masuk ke rumah makan berikutnya terasa cocok. Namun ketika menyebutkan pesanannya Samuel R mendadak pingsan di lorong pintu rumah makan. Ayahnya cukup kerepotan mengangkat tubuh anaknya yang memang gemuk, namun ketika menggunakan minyak urapan untuk menyadarkan anaknya, Samuel R segera sadar dan langsung menyantap makananan yang sudah disiapkan pemilik rumah makan.

Setelah makan, barulah melanjutkan perjalanan kembali ke Bekasi melewati Puncak. Dan kurang lebih pukul 03.00 sampai dirumah dengan selamat. Yulia P membuka pintu dengan wajah ceria sekalipun sambil mengatakan bahwa persediaan beras sudah nyaris habis.

7 hari perjalanan penuh dengan onak dan duri, penuh dengan peperangan dan ujian, penuh dengan doa dan pujian serta penyembahan, penuh dengan mujizat dan pengurapan. Benih – benih kebenaran banyak tertebar ke berbagai penjuru. Gideon AS percaya bahwa perjalanannya kali ini beserta dengan Samuel R pasti akan membuahkan hasil. Tuhan pasti akan menumbuh kembangkan Firman-Nya, dan tidak akan Tuhan biarkan Firman-Nya kembali dengan sia-sia. Terpujilah nama Tuhan Yesus. Haleluya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: