d. Kapan selesai ?,..

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Pergumulan Gideon AS dan keluarganya masih belum nampak kapan akan berakhir. Malam itu Yulia P nampak tidak lagi berapi-api dalam membicarakan tentang kebesaran dan keajaiban Tuhan. Ia nampak down ketika pertolongan Tuhan yang sangat diharapkannya tidak juga segera menjadi sebuah kenyataan. Ia demikian lemah sekalipun masih mencoba bangkit dari rasa kekecewaannya dengan sedikit tersenyum walaupun terasa getir.

Saat Gideon AS melepas sepatu kerjanya, ia begitu pedih melihat anaknya yang ke 3 yang nampak kurus. Hatinya luka demikian pikir Gideon AS dalam hati. Beberapa hari terakhir ini anak-anak Gideon AS dengan sangat terpaksa tidak lagi mendapatkan jatah uang jajan, karena memang tidak ada lagi yang bisa diberikan kepada mereka.  Persediaan untuk belanja sudah semakin menipis. Hal inilah yang membuat hati Gideon AS sangat terpukul. Mereka menderita, karena keadaan, kondisi dan mungkin disebabkan factor yang lain.

Ia sendiri biasa menderita, tetapi anak-anaknya tahankah terhadap derita sama seperti orang tuanya ? Itu yang membuat  Gideon AS duduk tepekur seakan menyalahkan diri sendiri. Mengikut Tuhan demikian berat dan penuh dengan tantangan. Akan tetapi ketika ia ingat upah yang akan diterima nanti, hatinya lantas terhibur. Benarlah suatu ungkapan  ” menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat gratis ”, mengikut Tuhan Yesus ada yang harus ” dibayar ”, tetapi melayani Tuhan Yesus harus menyerahkan segala-galanya, atau mengutamakan Tuhan Yesus diatas segala-galanya.

Saat doa malam berdua dengan istri, Gideon AS seperti biasa memberikan penghiburan dan juga pendapat yang tentu saja yang terkait dengan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Semua ada masanya demikian beberapa kali Gideon AS sampaikan. Yulia P nampak terhibur dan sedikit demi sedikit mampu menguasai diri se iring dengan derita panjang yang entah kapan akan berakhir.

Senin, 21 Nopember 2005 ketika doa pagi, Wilbert mengatakan,

“ Pah,.. tadi Roh Kudus bilang bahwa jam 07.00 nanti roh saya akan diangkat keatas “

“ Setengah jam lagi ? “ Tanya ayahnya sambil memperhatikan jam dinding yang telah menunjukkan angka 06.30.

“ Iya “ jawab Wilbert pendek.

“ Ada apa ? “ Tanya si ayah ingin tahu.

“ Nggak tahu mau ada apa, tetapi kelihatannya mau ada informasi penting dari Tuhan Yesus Kristus “ jawab  Wilbert sungguh-sungguh.

“ Terserah Tuhan saja, karena anak-anak papa semuanya milik Tuhan “ jawab ayahnya santai.

Doa segera dimulai oleh imam, dilanjutkan dengan doa syafaat oleh Samuel R dan seperti biasa Roh Kudus melalui mulut Samuel R memberikan banyak nasehat, teguran, peneguhan, penghiburan, dan berbagai peringatan. Tiba-tiba Wilbert rebah di samping Samuel R. Gideon AS menengok jam dinding, dan tepat jam 07.00. Roh Wilbert meninggalkan tubuhnya sedang diangkat ke atas.

Ketika roh Samuel R kembali menguasai seluruh tubuh dan jiwanya, Wilbert-pun nampak tanda-tanda akan bangun, dan memang benar segera Wilbert berusaha duduk. Dan ketika ia sudah duduk dan membuka mata, Wilbert sedikit menguap dan menyeka matanya. Gideon AS segera bertanya,

“ Kabar apa yang kamu bawa ? “

“ Dua hari lagi, karunia bisa berbincang dengan Roh Kudus akan di cabut “

“ Kenapa dicabut ? “

“ Tuhan Yesus mau, Wilbert mulai belajar mandiri dengan meminta hikmat dan marifat dari Tuhan untuk menghadapi segala persoalan. Kalau selama ini khan selalu bertanya kepada Roh Kudus, kapan Wilbert dewasanya ? “ papar Wilbert pada kedua orang tuanya dan juga kakaknya.

“ Sampai kapan ? “

“ Terserah Tuhanlah “ jawab Wilbert.

“ Kalau sekarang masih bisa ? “

“ Masih,… esok lusa baru Tuhan akan cabut “

Pagi itu Samuel R dan Wilbert mendapat tugas dari Roh Kudus agar mengurapi sepanjang jalan dari rumah ke Pekayon dan sekitarnya dengan minyak urapan. Dan Gideon AS segera memacu kendaraannya menuju ke tempat pekerjaannya, dengan keyakinan bahwa Tuhan melihat segala aktivitasnya dan juga aktivitas anak-anak serta istrinya. Iapun sangat sadar bahwa hidupnya dan juga hidup anak-anak serta istrinya, Tuhan pelihara, sayangi dan cukupi. 

Gideon AS renungkan kejadian pagi sebelum berangkat bekerja. Roh Kudus menegur dengan keras,

“ Mengapa diantara kalian masih ada kebimbangan dan juga kekhawatiran ? “

“ Sayakah ?, Istri sayakah, ? atau anak-anakku kah ? “ Tanya Gideon AS.

“ Mamanya anak ini, coba konfirmasi pada anakmu yang nomor dua agar bertanya pada Roh Kudus “

“ Iya, benar. Roh Kudus mengatakan bahwa mama ada bimbang dan sedikit kekhawatiran “ jawab Wilbert.

“ Benarkah demikian ? “ Tanya Gideon AS perlahan pada istrinya.

“ Iya sedikit  “ jawab Yulia P lirih.

Bagi Tuhan adakah yang tersembunyi ? kata Gideon AS dalam hati sambil mengendarai motor Tigernya. Tentu tidak, !  bantahnya juga dalam hati. Kembali angannya bermain dengan suatu gambaran yang sulit dicerna oleh akal sehat. 

“ Sampai kapan pah,.. kita seperti ini ? “

“ Tuhan yang tentukan, bukan kita “

“  Wilbert kembali tidak di ijinkan sekolah, karena disekolahannya banyak roh antikristus “

“  Kembali pengandalan kita kepada Tuhan masuk ke dalam ujian babak baru “

“ Kenapa kita mesti takut ? Bukankah ada Firman yang mengatakan bahwa roh yang ada di dalam diri kita lebih besar dari roh apapun di dunia ini ? “ kata Ragil yang juga mendengarkan percakapan kedua orang tuanya.

“ Benar apa yang Ragil katakan, tetapi perlu hikmat dan marifat untuk mensikapi segala persoalan “  jawab ayahnya mencoba menjelaskan. Kemudian ia lanjutkan, “ Bukan masalah takut atau tidak takut, tetapi ini masalah menurut atau tidak menurut, patuh atau tidak patuh. Mari kita lihat apa yang terjadi pada nabi Hosea. Ia seorang Nabi tetapi Tuhan perintahkan mengawini pelacur. Secara akal sehat, akal manusia apakah ini layak dan pantas ? Tetapi itulah perintah Tuhan, dan nabi Hosea menurut apa yang Tuhan perintahkan.

Kemudian Abraham yang diminta Tuhan menyembelih anaknya sendiri. Apakah secara akal manusia ini benar ? Tentulah suatu perbuatan yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Tetapi Abraham menurut. Abraham tidak peduli apa kata manusia, ia hanya peduli apa kata Tuhan. Kalau Tuhan perintahkan agar Wilbert tidak masuk sekolah. Haruskah peduli apa kata manusia ?. Mengapa tidak mengutamakan Tuhan, menurut kata Tuhan saja sekalipun secar akal manusia memang tidak masuk akal ?

Bukankah sangat jelas Firman yang mengatakan bahwa barangsiapa mengasihi ayah atau ibunya ataupun anaknya lebih dari pada Tuhan ia tidak layak bagi Tuhan ? Apalagi hanya sekolah ? “

Ragil renungkan apa yang disampaikan ayahnya sambil mengangguk-angguk. Entah memang bisa memahami atau justru sama sekali belum bisa mencerna apa yang disampaikan ayahnya. Dari sisi usia memang masih berusia 11 tahun, namun bukankah sejak usia belia harus diperkenalkan dengan kasih Tuhan yang sangat luar biasa ?.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: