k. Yesus mengasihimu,..

Rabu, 5 April 2006.

Ketika itu masih pagi-pagi sekali. Samuel R membawa-bawa pisau. Kadang di depan computer terkadang duduk di depan pintu kamar. Gideon AS sengaja tidak terlalu memperhatikan apa yang dilakukan Samuel R

“ Badai belum berlalu “ kata Gideon AS dalam hati ketika ia melihat Samuel R kembali mengamuk.  Di awali dengan sikap dan perilaku yang tidak sebagaimana biasa. Bahkan pagi itu beberapa kali Gideon AS terkena pukulan di wajahnya, serta tamparan yang membabi buta. Segera Gideon AS meminta perlengkapan senjata rokhani di ikuti juga oleh Yulia P dan juga Wilbert.

Setelah itu barulah Samuel R berhasil “ dikuasai “.  Sementara masing-masing mempersiapkan “ perang “ secara rokhani, Samuel R “ diamankan “ dengan cara di ikat kedua tangannya dengan selendang. Baru setelah itu berdoa serta menengking kuasa-kuasa kegelapan yang nampak sangat jelas menguasai Samuel R.

Samuel R meronta dengan sangat kuat, kemudian berusaha melukai diri dengan membentur-benturkan kepalanya ke tembok, kemudian menggigit lengan tangannya sampai berbekas. Belum puas dengan itu ternyata kakinya bergerak dengan cepat menendang Gideon AS. Beruntung Gideon AS masih sempat menghindar.

“ Dalam nama Yesus Kristus, roh amarah, dengki, iri, sakit hati dan roh apapun yang tidak memuliakan nama Tuhan saat ini saya perintahkan keluar “ pekik Gideon AS dengan keras.

Demikian di lakukan berulang-ulang dengan penuh iman, sampai Samuel R kembali menjadi tenang. Sementara itu Yulia P dan juga Wilbert menyanyikan nyanyian peperangan sambung menyambung dengan kesungguhan hati.  Gideon AS kembali berdoa  kepada Tuhan agar mengirimkan malaikat Mikhael untuk mengambil alih peperangan yang sedang berlangsung. Dan sungguh suatu pergumulan yang tidak ringan ketika Samuel R kembali berteriak-teriak  mengatakan bahwa Tuhan tidak adil terhadap dirinya.

“ Mengapa aku diciptakan bodoh Tuhan ? !” teriak Samuel R sambil menangis dengan keras.

“ Mengapa Tuhan, mengapa ? “ kembali Samuel R meraung lalu kembali menangis,. “ Tuhan,.. ambil saja nyawaku saat ini, aku malu menjadi anak yang bodoh, anak yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika kedua orang tuaku ada dalam kesulitan ekonomi “ demikian Samuel R katakan di sela-sela isak tangisnya.

Dengan kasih Gideon AS meraih kepala Samuel R anaknya, di benamkan  di dalam dadanya kemudian di belai kepala anaknya dengan lembut. Ia katakan kepadanya, : “ Samuel R,…… Tuhan itu baik, teramat baik kepada kita sekeluarga.”

“ Mengapa saya seperti ini ?  Samuel R ingin seperti mereka, kawan-kawan Samuel R yang bisa membantu kedua orang tuanya, apalagi Samuel R tahu papa dan mama dalam kesulitan keuangan “

“ Tuhan itu maha murah, dan juga kaya, percayalah bahwa pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktunya “

Samuel R kembali menangis di dalam dekapan ayahnya.

“ Menangislah,.. kalau kamu memang ingin menangis,… Tuhan mengasihimu,.. Tuhan mengasihimu “

Samuel R perlahan mengangguk. Lalu kembali Gideon AS mengatakan : “ Tuhan sedang membentuk kita, Tuhan tengah mendidik kita agar kita hanya bersandar pada Tuhan saja, agar kita senantiasa mengandalkan Tuhan saja. Tuhan mau kita tetap setia apapun yang terjadi. Tuhan mau hati kita, bukan harta kita, bukan juga kekayaan kita. Tuhan mau hati kita selalu tertuju pada-Nya. “

Suasana menjadi hening ketika Gideon AS melepaskan kepala anaknya dari dekapannya. Sosok  seorang anak yang ingin sekali peduli kepada kedua orang tuanya yang sedang terbentur kesulitan ekonomi. Ia ingin berbuat sesuatu, namun ia tidak bisa melakukannya. Ia kecewa pada Tuhan sebagai yang menciptakannya, namun akhirnya ia kembali menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan sedang mendidik keluarga ini agar senantiasa mengandalkan Tuhan dalam kondisi apapun juga.

Ketegangan sudah berlalu, Stevanie kecil sudah berani mendekati Wilbert kakaknya. Namun ketika Samuel R diminta membuka mata, ia tidak bisa lakukan itu. Matanya tidak bisa dibukakan. Kemudian Gideon AS membisikkan sesuatu kepada Wilbert yang berada di sebelah Yulia P. Dan nampak Wilbert mengambil minyak urapan, berdoa dihadapan kakaknya, mengoles kedua kelopak matanya dengan minyak urapan, dan tidak lama kemudian kedua mata Samuel R bisa dibuka kembali. Dan,… hanya ucap syukur kepada Tuhan yang telah memulihkan Samuel R dari berbagai belenggu yang selama ini menghimpit.

Pagi-pagi sekali Gideon AS sudah bangun, ia berdoa sejenak di bibir tempat tidur, baru kemudian kekamar yang lain untuk melihat Stevanie, apakah panasnya sudah reda. Kemarin pagi, Stevanie memang terserang demam sehingga tidurnya ditemani Yulia P mamanya. Sejenak Gideon AS memperhatikan Yulia P yang juga sudah terbangun. Ada duka tersirat sangat jelas menggelayut diwajah Yulia P istrinya.  Gideon AS mencari tahu mengapa istrinya demikian. Ia melihat begitu berat beban yang terpasang pada bahu istrinya sehingga ia nampak begitu lelah.

“ Papah, anak-anak tidak mau kalau mereka tidak diberikan uang jajan “ guman Yulia P perlahan dengan tatapan kosong.

“ Kalau memang ada berikan saja, sekaligus sampaikan kesulitan apa yang mama alami saat ini terkait dengan keuangan “ jawab Gideon AS setengah berbisik agar tidak membangunkan Steavnie yang masih

  tidur nyenyak.

“ Sudah disampaikan berulang kali tetapi anak-anak tidak mau tahu “

“ Bersyukurlah kepada Tuhan karena semua yang terjadi Tuhan sangat tahu, dan bahkan yang terjadi merupakan ujian, apakah kita senantiasa mengandalkan Tuhan atau menjadi kecewa “ Gideon AS berusaha memberikan pemahaman bagaimana mengucap syukur dalam kondisi apapun. Yulia P hanya diam dan sesekali menghela nafas panjang.

Kembali Gideon AS mengatakan : “  Ketika kita memberikan kesaksian kepada orang lain bagaimana hidup benar di mata Tuhan, bagaimana senantiasa mengucap syukur apapun yang terjadi, bagaimana senantiasa menyandarkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan bagaimana meyakini bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mengasihi, Tuhan yang memberikan pertolongan tepat pada waktunya dan juga Tuhan yang kaya, yang tidak mungkin akan melepaskan anak-anak-Nya sendirian ketika ada dalam kesengsaraan. Ketika itu terjadi dalam diri pribadi kita mampukah kita keluar sebagai pemenang ?  Akankah kita sandarkan pengharapan kita hanya kepada Tuhan saja ? “

“ Ketika kita sudah berusaha hidup benar di mata Tuhan, Tuhan akan memampukan kita menghadapi segala perkara yang terjadi dengan baik. Tuhan akan memberikan kekuatan yang cukup kepada kita di kala badai datang secara tiba-tiba dan tanpa di duga sama sekali. Persoalan boleh datang, problema boleh menghadang, tetapi ketika bersama-sama dengan Tuhan Yesus Kristus, semua rintangan menjadi tidak berarti. Semua itu karena Tuhan, bukan karena kuat dan gagah kita ataupun kebisaan kita.”

Tanpa terasa hampir 30 menit mereka tenggelam dalam perbincangan untuk saling membangun dan me-nguatkan. Senyum sudah mulai menghiasi wajah Yulia P, sosok seorang wanita yang sarat dengan tempaan yang luar biasa. Di awali dengan keadaan yang menimpa anaknya yang pertama yaitu Samuel R dimana bertahun-tahun ada dalam pergumulan dengan kuasa kegelapan. Setelah itu menyusul Wilbert adiknya yang juga beberapa kali menjadi media masuknya kuasa kegelapan.  Badai demi badai menghantam biduk dimana Yulia P menjadi penopang sang nahkoda yaitu Gideon AS suami yang menikahinya hampir 20 tahun yang silam. Silih berganti badai kehidupan menempa keluarga mereka, dari hubungannya yang kurang harmonis dengan kedua orang tuanya ketika mengetahui bahwa mereka tidak lagi ke gereja mula-mula mereka mengenal Kristus.  Duri kehidupan terkadang menggores membuat luka yang sangat menyakitkan yang justru bersumber dari saudara-saudara yang tidak bisa memahami kondisi kesulitan ataupun problematika yang dihadapinya.

Yang paling menyakitkan dirasakan Yulia P adalah ketika biaya untuk belanjapun sudah mulai terkikis oleh suatu keadaan. Sampai untuk membeli susu si kecil, tabung gas sampai di jual, bahkan cincin penghargaan 15 tahun suaminya bekerja di perusahaan di tukar dengan yang bernama rupiah. Kemudian TV pun dijual ketika untuk biaya ke gerejapun tidak ada lagi. Sulit dipahami pihak luar keluarga mengapa sampai mengalami krisis ekonomi yang demikian besar dan demikian berat sampai harus “ habis-habisan “ ?.  Bahkan beberapa kali anak-anak mereka mengais benda-benda yang bisa dijual untuk berbagai keperluan. Dari kamera, botol aqua, besi-besi tua, elektronik yang sudah rusak, bahkan sepeda-sepeda yang sudah usang ditukar dengan yang namanya rupiah.

Gideon AS lihat dan perhatikan semua yang terjadi dengan hati yang hancur sekalipun masih tersungging senyum dan ucap syukur kepada Tuhan. “ Masih belum seperti Ayub “ beberapa kali ia katakan pada istri dan anak-anaknya. Satu hal yang mereka yakini dan imani, adalah pemeliharaan dan pertolongan Tuhan yang sangat sempurna. Burung diudara Tuhan pelihara, apalagi sebagai anak-anak Tuhan pasti Tuhan akan berikan yang terbaik. Sepanjang mereka ada di dalam Tuhan dan melakukan yang baik di mata Tuhan apapun yang terjadi di dalam kehidupannya mereka tidak lagi takut dan juga tidak khawatir. Kalaupun mereka sampai mati kelaparan Tuhanlah yang akan malu, dan mereka yakin Tuhan tidak mau diriNya dipermalukan.

“ Semua ada masanya “  Gideon AS berkata dalam hati ketika Stevanie menatap sayu ke arahnya. Ia biasa berdiri dipintu depan ketika ayahnya berangkat bekerja. Beberapa kali Stevanie anak Gideon AS yang masih berusia 4 tahun pesan agar jangan lupa membawakan susu kesukaannya. Dan ketika Gideon AS pulang dari bekerja, biasanya Stevanie tidak lupa menanyakan susu yang dipesannya.

“ Papah,… bawa susu buat Stevie nggak ? “ teriak Stevanie suatu hari ketika tahu ayahnya pulang.

Gideon AS hanya menggelengkan kepala perlahan sambil menatap anak perempuan satu-satunya dengan sedih.

“ Yah papah begitu deh,… Stevie kan mau susu coklat ! “ kata Stevanie kembali sambil merajuk.

“ Besok ya, kalau papa sudah ada uang, papa akan belikan susu untuk Stevie ! “ jawab Gideon AS sambil mengangkat anak perempuannya dan mencium pipinya.

Yang seperti itu beberapa kali Gideon AS alami. Bukan saja dengan Stevanie, melainkan dengan anak-anaknya yang lain juga. Ekonomi keluarga Gideon AS sedang dalam keadaan porak poranda. Mengapa terjadi hal yang demikian ? Apakah selama ini ia tidak berpenghasilan ? Bukankah ia adalah seorang karyawan swasta dengan masa kerja lebih dari 15 tahun ? Kemana gajinya selama ini ? Kemana ?

Bukankah ia juga seorang supervisor dengan penghasillan yang lumayan besar, untuk ukuran karyawan golongan 4b. Tetapi mengapa ekonominya demikian terpuruk ? Apa yang salah ? Dan mengapa Tuhan biarkan itu semua terjadi pada keluarga yang sedang berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan dengan sebuah komitmen berusaha hidup kudus ?

Duka yang dalam terkadang nampak pada raut wajah Yulia P, sekalipun setelah itu ia coba tersenyum, ia coba senantiasa ceria apalagi ketika menghadapi anak-anaknya yang meminta uang jajan. Seorang wanita ibu rumah tangga yang mengalami kejadian yang sangat komplek. Sekali lagi sangat komplek. Dan tidak hanya mengalami peperangan rokhani, melainkan juga peperangan dalam bentuk yang lain. Ia alami perang dengan kelumpuhan ekonomi sebagai konsekuensi dari sikap yang di ambil Gideon AS suaminya. Bukan hanya itu, melainkan ada beban tambahan yang harus ia pikul. Apa peran kedua orang tuanya ? Ia tidak banyak berharap. Apa peran saudara-saudaranya ? Iapun tidak ambil pusing. Karena satu yang ia senantiasa lihat dan perhatikan yaitu kasih Allah, kasih Tuhan Yesus Kristus yang sangat luar biasa.

Beberapa kali suaminya memberikan gambaran dibalik hancurnya ekonomi keluarga mereka. Dan satu harapan mereka yaitu  hanya Tuhan Yesus Kristus sajalah yang akan mampu mengatasi segala permasa-lahan yang mereka hadapi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: