m. Mas Singgih,..

Sementara waktu terus berjalan. Sampai pada hari Sabtu 15 April 2006. Ada kesepakatan antara ibu Anne, ibu Rut, Gideon AS dan juga ibu Metty agar pada hari Sabtu kumpul di rumah ibu Anne untuk berdoa bersama dan juga schering. Gideon AS berencana membawa Wilbert untuk acara Sabtu itu, tetapi ketika sudah lewat tengah hari, Wilbert mendatangi ayahnya yang ketika itu sedang asyik di kebon belakang, mengais beberapa tanah yang sudah lama tidak disentuh.

“ Pah, hari ini berangkat jam berapa kerumah ibu Anne ? : Tanya Wilbert.

“ Antara jam satu siang “ jawab si ayah tanpa menengok.

“ Bisa nggak kalau berangkatnya jam tiga ? “ Tanya  Wilbert

“ Memangnya kenapa ? “ Tanya ayahnya sambil menatap si anak dengan tajam.

“ Sewaktu tadi saya kedapur, Roh Kudus bilang ke saya, bahwa nanti jam 13.30 agar menghadap Tuhan Yesus, ada yang akan Tuhan sampaikan pada saya “ jawab Wilbert.

“ Oh, begitu ya sudah “ komentar si ayah pendek.

Hari itu Gideon AS ke tempat ibu Anne bersama Samuel R. Sementara Wilbert tinggal di rumah.  Apa yang terjadi pada Wilbert ? Dan inilah adikodrati yang ke  23  ( dua puluh tiga ), demikian penuturannya :

“  Hari itu sesuai dengan pesan Roh Kudus. Tepat pukul 13.30 roh  Wilbert terangkat di jemput Roh Kudus.” Sebagaimana yang sudah-sudah sinar yang sangat terang yang menjemput saya, dan saya uji terlebih dahulu berulang-ulang. Roh Kudus asli atau roh yang menyamar sebagai Roh  Kudus. Ketika benar bahwa saya bersama Roh Kudus yang asli, barulah saya menurut ketika  Roh saya diajak naik ke atas.

Di atas saya bertemu kembali dengan Tuhan Yesus. Dan Tuhan Yesus berkata : “ Wilbert,..  “

Jawab saya : “ Ya, Tuhan “

“  Sore nanti pergilah kamu ke ujung jalan tol dekat rumahmu. Nanti kamu akan menemukan  seorang anak kecil yang akan meminta tolong kepadamu. Hantarkan dia kembali kerumahnya. “ kata  Tuhan.

“ Ya, Tuhan “ jawab saya. Setelah  itu roh saya kembali ke dalam tubuh saya, dan menceritakan kepada ayah saya yang ketika itu sedang kotak-katik motor di garasi.

Tepat sesuai dengan apa yang dikatakan Tuhan Yesus. Kurang lebih pukul 17.00 saya  menggunakan sepeda motor menyusuri jalan kampung dan sampai ke ujung jalan tol dekat rumah. Kemudian saya melihat seorang anak kecil berusia kira-kira 5-6 tahun sedang menangis di pinggir jalan tol. Kemudian saya menyapa anak itu  : “ Kenapa dik menangis sendiri disini ? “

“ Saya ditinggal disini oleh kawan-kawan saya tadi “ jawab anak itu sambil menangis.

“ Tadi naik apa kesini ? “ Tanya saya kembali.

“ Sepeda,… , hu,… hu,.. antar saya pulang, antar saya pulang “ demikian pinta si anak disela-sela  tangisnya. 

“ Rumahmu dimana ? “ Tanya saya.

“ Di sana “ Tanya anak itu sambil menunjuk ke suatu arah.

Dan sesuai pesan Roh Kudus, saya membonceng anak kecil itu ke suatu alamat yang diperkirakan kurang lebih 5-6 km dari tempat itu. Belum lama saya mengendarai motor dengan membonceng anak itu tiba-tiba ada mobil yang nyaris menyerempet motor yang saya naiki. Saya terkejut dan segera membanting stir kekiri secara reflek. Untunglah saya masih bisa mengendalikan motor itu sehingga saya tidak jatuh. Dan sampai di tempat yang dituju, maka anak kecil itu disambut orang tuanya. Seorang ibu yang memang tengah mencari anaknya. Kepada saya ibu itu mengucapkan terima kasih telah mengantarkan anaknya yang tersesat. Dan kepada saya diberikan uang sejumlah Rp. 1.000,- entah uang untuk apa. Saya menerima uang itu dan mengucap syukur kepada Tuhan dengan ucapan Halleluya.

Sepanjang perjalanan kembali kerumah saya bertanya kepada Roh Kudus. Demikian,

“  Roh Kudus, apa maksud Tuhan dengan kejadian yang baru saja saya alami ? “

“ Tuhan Yesus Kristus sedang menguji kamu, ketika engkau mau disrempet mobil, apakah  kamu marah-marah atau masih bisa mengendalikan diri ?. Dan ketika kamu diberikan uang Rp.   1.000,- apakah dengan uang itu kamu bersyukur atau menggerutu ? “

“ Oh, begitu, ya terima kasih atas didikan Tuhan  atas diri saya “

Demikianlah apa yang terjadi pada Wilbert ketika itu.

Dalam pada itu, yang terjadi di rumah ibu Anne tidaklah seperti yang direncanakan semula. Kalau semula direncanakan kumpul pada pukul 19.00, namun ada saja penghalang sehingga akhirnya terjadi jemput menjemput. Tetapi apapun yang terjadi tetap ada suka cita. Bahkan ibu Metty baru selesai dengan ibu Yulia hampir tengah malam.

Baiklah, babak akhir dari buku ini tidak bisa lagi terelakkan, dan mungkin sudah saatnya rentetan panjang yang tertuang dalam buku ini menuju ke suatu kata yaitu “ selesai “.

Kurang lebih pukul 01. dini hari pas orang sekitar kediaman ibu Anne tidur dengan nyenyak.  Maka sekelompok orang tengah mempersiapkan diri justru mau menyembah Tuhan, memuji Tuhan dan menjalin hubungan yang sangat erat dengan Sang Pencipta.  Melalui do’a, puji-pujian dan juga syafaat.  Ibu Rut kali ini membawa adiknya yang dipanggil mas Singgih. Mas Singgih ini menurut ibu Rut adalah eks murid Nyai Roro Kidul. Banyak ilmu ada padanya. Dari kepemilikan pedang penjaga gunung merapi, mata naga hijau penunggu gua Kiskenda, ia juga pernah meminum “air hu” dari paranormal. Ia juga memiliki kemampuan berendam di laut pantai selatan. Beberapa kali ia dipakai dalam acara ritual sebagai benteng keraton Jogjakarta. Ia selalu berdiri paling depan ketika hendak menguasai/memasuki wilayah yang terkenal angker.

Malam itu ibu Rut menyampaikan pada ibu Metty untuk pelepasan adiknya yaitu Singgih dari belenggu kuasa kegelapan dan mau melepaskan semua ilmunya.

“ Tidak Rut, saya tidak siap untuk melaksanakan pelepasan, karena saya sudah lelah. Datang saja ke teamnya bapak Thomas Bangun “ ibu Metty menyampaikan kepada semua yang hadir, yaitu Gideon AS dan Samuel R, Ibu Ratna dan mas Kris, Ibu Ivonne, mas Singgih dan ibu Rut, serta ibu Anne. Keterbatasannya sebagai seorang manusia yang masih berdaging telah dikemukakan oleh ibu Metty. Namun siapakah yang bisa membatasi karya Allah ? Tidak ada seorangpun, sekalipun itu adalah ibu Metty.

Maka tanpa diduga siapapun juga, ketika mereka diruangan itu tenggelam dalam doa dan penyembahan yang penuh dengan urapan Roh Kudus, mas Singgih menampakkan tanda-tanda manifestasi. Disamping mas Singgih ada Gideon AS yang sudah larut dalam doa dan penyembahan. Sementara ibu Metty berdoa, ia mendengar perintah Tuhan agar membuka mata. Dan yang nampak adalah gerakan yang mulai aneh dari mas Singgih.

Muka tegang dan ditarik ke belakang. Kaki dan tangan kaku dan keluar suara dari mulutnya suatu erangan yang sekalipun perlahan tetapi terdengar dalam dan parau. Segera ibu Metty bangkit berdiri persis di depan mas Singgih. Maka dengan minyak urapan ditangan mulai ia menengking kuasa kegelapan yang sudah tidak tahan mendengar doa dan penyembahan yang berkumandang dan memenuhi atmosfir ruangan itu.  Kemudian ibu Metty berbisik kepada Gideon AS agar bangkit membantunya. Segera Gideon AS bangkit berdiri dan mengambil sikap waspada. Ia sadar ada kuasa kegelapan dibalik tubuh jasmani mas Singgih.

Maka saat itu juga yang lain bersiaga dan satu demi satu bangkit berdiri mengarahkan perhatian mereka kepada satu titik yaitu mas Singgih yang mulai menggelepar tak terkendali. Meja-meja disingkirkan agak menjauh agar tidak mengalami cedera benturan. Do’a dan penengkingan terdengar perlahan karena mengingat sudah lewat tengah malam. Mulai ibu Metty dalam do’anya memohon kepada Tuhan agar menutup bungkus mereka yang datang termasuk seluruh keluarga mereka yang ada dirumah masing-masing dengan kuasa darah Yesus, dan menolak serangan balik di dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

“ Pak Gideon, pakai dulu minyak urapan “ bisik ibu Metty perlahan. Dan segera Gideon AS melakukannya.

  Demikian juga yang lainnya mulai menggunakan minyak urapan.

“ Tekan di bagian dada kanan dan kiri bersama-sama “ kata ibu Metty kepada Gideon AS. Segera Gideon AS melakukan yang disampaikan ibu Metty.

Maka yang terjadi adalah keadaan dimana wajah mas Singgih semakin menegang. Cukup lama terjadi demikian, sampai akhirnya lunglai dan lepas. Setelah itu muncul gerakan yang lain, segera ditangani dengan suatu keyakinan yang kokoh bahwa iblis dan segala bentuk manifesatasinya sudah dikalahkan Tuhan Yesus Kristus. Setelah itu mulai dilakukan pada tempat-tempat yang lain. Kuasa kegelapan ternyata mulai satu demi satu manifestasi dengan berbagai model dan gaya serta gerakan. Dan semuanya dipatahkan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Kemudian ibu Metty memanggil mas Kris suami ibu Ratna agar menggantikan Gideon AS, yang segera mengambil posisi bagian bawah dari tubuh mas Singgih. Maka yang dialami mas Kris ternyata juga luar biasa. Seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya. Ia merasakan bagaimana dengan telunjuk tangan yang lebih dahulu di olesi dengan minyak urapan, bisa mengusir setan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Pada mulainya memang mas Kris bersuara perlahan, tetapi segera di ingatkan ibu Metty agar berbicara lantang dan dengan penuh kuasa sekalipun tidak harus berteriak, agar setan lari. Maka segera hal itu dilaksanakan. Apa yang terjadi ? mas Kris melihat bagaimana mas Singgih meronta-ronta menghindari sentuhan tangan mas Kris. Dan akhirnya lepas,… kuasa kegelapan itu meninggalkan tubuh mas Singgih, tetapi segera muncul manifestasi yang lain lagi.

Mulai satu demi satu dikupas habis, dicuci bersih oleh Roh Kudus. Mulai dari roh naga hijau, yang ia dapatkan di gua Kiskenda, roh dari nyai Roro Kidul ( ybs. Adalah bekas muridnya ). Roh yang memungkinkan ia meraga sukma, roh penjaga gunung merapi dalam bentuk pedang, kemudian roh yang bisa membuat dirinya berada ditengah-tengah laut selatan, roh najis, roh boros, roh hutang-hutang, roh yang mempengaruhi pikiran-pikiran jahat, roh kegagalan, dan masih banyak lagi roh yang lain yang bersumber dari kuasa kegelapan. Dan kurang lebih dua jam proses itu terjadi dan akhirnya semuanya lepas, dan merdeka, mas Singgih terbebas dari belenggu kuasa kegelapan yang selama ini tidak di sadari sepenuhnya.

Apa yang dirasakan mas Singgih ketika proses pelepasan dilakukan ?  Demikian penuturannya : “ Ketika perut di tekan dengan dua jari, yang saya rasakan adalah adanya sebuah himpitan baik dari depan maupun belakang. Perut rasanya menjadi demikian tipis seperti papan. Padahal yang terjadi dan terlihat adalah otot perut yang menegang.

Ketika telapak kaki ditekan dengan ibu jari kaki kearah dalam, yang dirasakan adalah kedua kakinya di lepas dari pangkalnya. Ketika kedua tangan ditekan dengan dua jari yang telah dilumuri minyak urapan, yang dirasakan adalah kedua tangan seperti dilepas dari pangkalnya. Ketika dahi diantara dua mata ditekan dengan jari yang lebih dahulu dioles dengan minyak urapan, yang dirasakan adalah sepertinya kepala dilepas dari pangkalnya.

Masih banyak kisah yang dirasakan mas Singgih yang begitu unik dan sulit untuk dipercaya kalau tidak merasakannya sendiri. Dahulu beberapa kali ia melihat pelepasan, tetapi saat itu ia berfikir bahwa yang terjadi adalah sebuah sandiwara, sebuah lelucon, sebuah permainan untuk sebuah pertunjukkan. Namun karena ia mengalami sendiri sehingga ia kali itu, malam itu, pagi itu lebih banyak merenung dan merenung.

“ Tuhan Yesus begitu baik pada saya “ beberapa kali mas Singgih mengucapkan kata-kata itu.  Terkadang sinar matanya berbinar, dan terkadang menerawang begitu jauh bagaikan melihat luasnya laut yang tiada bertepi.

“ Ach,.. Tuhan begitu baik ,…. Akhirnya terjawab pertanyaan saya selama ini “ mas Singgih berguman perlahan.

 “ Ada apa mas ? “ sapa Gideon AS yang sekilas memperhatikan gerak-gerik mas Singgih.

“  Pantesan selama ini kalau saya berdoa tidak bisa naik, selalu hilang konsentrasi “ jawab mas Singgih dingin.

“ Yah,…., hanya Tuhan Yesus yang mampu membebaskan mas Singgih “ komentar Gideon AS berusaha  memecah kesunyian.

“ Iya, ya pak,……, benar-benar saya tidak menyadari bahwa di dalam tubuh saya demikian banyak roh yang membelenggu saya selama ini, padahal saya sudah konseling, bahkan sudah baptis selam “ kata mas  Singgih dengan nada datar.

“ Yah,.. semua ada masanya. Sekaranglah saatnya mas Singgih bebas. Bebas yang benar-benar bebas “ ucap Gideon AS sambil mengangguk-angguk kecil.

Matahari mulai nampak bersinar. Hari kemenangan telah tiba. Yaitu Paskah, hari kemenangan Tuhan Yesus yang telah bangkit dari maut, bangkit dari kematian. Yesus Kristus telah kalahkan neraka dan kematian. Dan hari itu juga mas Singgih menang dari kuasa-kuasa kegelapan yang selama ini membelenggunya.  

Tidak lama kemudian ibu Rut membuat teh hangat untuk dinikmati bersama. Ibu Metty ternyata tidak tidur, tetapi matanya tetap bersinar dan bahkan ketika yang lain tengah tidur, ibu Metty malahan mencuci pakaian ber ember-ember. Di sela-sela obrolan pagi itu ibu Metty mengisahkan kejadian beberapa tahun yang lalu di pedalaman Kalimantan tempat ia beribadah. Demikian,

“ Ada sesuatu yang nggak beres pada sebuah gereja tempat ia berjemaat. Ia tidak tahu persis apa yang menjadi permasalahannya, namun ia bisa merasakan. Sampai kemudian ia mendapat penglihatan dari Tuhan melalui mimpi. Dalam mimpi itu ia melihat gembala sidang dalam keadaan telanjang. Kemudian dalam keadaan telanjang itu pula, ia bersujud di depan gereja, dan kemudian setelah itu ada lemparan batu dari segala arah mengenai gembala siding itu. Siapa yang melempar batu ? Tuhan beritahukan kepada saya bahwa yang melempar adalah malaikat.

Beberapa waktu berselang Tuhan memberi penglihatan kepada saya. Mimbar pada masbah pada gereja itu keluar air yang kotor dan baunya tidak enak. Saya bertanya kepada Tuhan, “ Tuhan apa maksud penglihatan ini kepada saya ? Jawab Tuhan, “ Perhatikan juga pintu-pintu yang lain “. Kemudian saya melihat pada pintu sebelah kiri gereja, saya juga melihat aliran air yang sama kotornya dengan yang keluar dari atas mimbar. Lalu saya juga memperhatikan pintu sebelah kiri, juga sama melihat hal yang sama.

“ Lihatlah keatas “ kata Tuhan. Kemudian saya melihat keatas. Saya melihat ada seorang malaikat dengan pedang terhunus yang segera memutus aliran air dari dari pintu sebelah kiri. Barulah air yang mengalir dari pintu sebelah kiri berubah menjadi jernih.

Tidak lama kemudian setelah kejadian itu. Gereja dimana saya berjemaat pecah menjadi dua. Dalam pemahaman saya gereja yang mula-mula saya ikuti sudah tidak lagi kudus, tetapi gereja pecahannya itulah yang kudus dan air yang keluar dari dalamnya jernih. Dan saya mengambil keputusan mengikuti gereja pecahannya sampai sekarang.

Sikap itu saya ambil sesuai dengan apa yang Tuhan katakan kepada saya.  Tinggalkan gereja ketika pengurus gereja atau pengelola gereja terdapat salah satu dari tiga hal yang terjadi pada gereja itu. Yang pertama apabila ada perzinahan, yang kedua apabila ada penggunaan uang gereja yang tidak benar atau ada yang korupsi. Dan yang ketiga adalah ketika terjadi penyembahan berhala. Misalnya masih ada yang ke dukun-dukun, paranormal, ataupun ke alternative  yang intinya tidak sepenuhnya mengasihi Tuhan Yesus Kristus, tidak mempercayai Tuhan Yesus Kristus 100 %.

Mengapa demikian ya ? Gideon AS berkata dalam hati. Namun akhirnya ia berpendapat, ketika hal itu dilakukan, maka Tuhan Yesus menjadi sangat berduka, dan karena tidak lagi mendapat tempat disitu sehingga Tuhan Yesus tinggalkan gereja itu, sehingga salah satu ciri khas yang nampak adalah tiadanya kuasa ilahi, tiada mukjizat terjadi ditempat itu, dan perkembangan jemaat sangat lambat, atau bahkan mengalami kemunduran.  Dan kalau sudah demikian mengapa harus tetap bertahan ditempat itu ?

Gideon AS renungkan apa yang disampaikan ibu Metty dengan seksama. Ia melihat pada diri sendiri. Ia seakan kembali melihat proses yang terjadi pada keluarganya. 3 tahun ia dalam pergumulan dengan berbagai duka dan derita, dengan berbagai cemoohan dan disertai kepedihan hati yang sangat menyayat. Dan akhirnya ia ambil keputusan yang tentu saja tidak populair di mata saudara-saudaranya, termasuk mertuanya. Tetapi itulah harga yang harus dibayar. Dan ternyata Gideon AS ditempat yang baru justru tumbuh dengan lebih cepat dibanding ketika ia masih berada ditempat yang lama. Demikian juga dengan anak-anak dan juga istrinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: