p. Kota yang sunyi,..

1 Juni 2006 pagi itu dua kendaraan yaitu Kijang dan Panther meninggalkan rumah mas Kris menuju Klaten, Sragen, Jogjakarta dan sekitarnya. Mereka yang tergabung dalam rombongan itu adalah : mas Yokanan, mas Kris dan istrinya yaitu ibu Ratna, Ibu Rut, Ibu Anne, Gideon AS, Ibu Ivonne dan om Yoseph.  Sengaja berangkat lebih awal agar bisa ke taman Getsemani lebih dahulu. Getsemani adalah sebuah tempat berdoa di daerah Ungaran.

Perjalanan cukup lancar bahkan cenderung santai.  Sampai di Ungaran kurang lebih pukul 18.30 dan ketika memasuki tempat yang dituju masih sempat menikmati makan sore yang disediakan oleh penyelenggara tempat berdoa. Sunguh merupakan tempat yang benar-benar pas untuk berdoa sekalipun di bebat dengan peraturan yang cukup menggelitik. Aturannya sederhana dan jelas tetapi ternyata tidak mudah untuk melaksanakan peraturan itu. Misalnya larangan untuk tidak berbicara dengan antar rombongan berdoa. Larangan berbicara dengan siswa atau siapapun yang bukan merupakan teamnya.

Juga dilarang membawa makanan apapun ke dalam kamar masing-masing.  Berkumpul diluar yang bukan tempatnya juga tidak diperkenankan. Dan inilah sesuatu yang menyerupai kehidupan di asrama ~ yaitu ketika selesai makan peralatan makan harus dicuci sendiri. Makan dijatah, bahkan krupuk hanya makan tidak lebih dari 2 potong. Jangan bayangkan menu yang tersaji demikian enak dan memikat sekalipun itu tidaklah berlebihan.

Pelajaran yang bisa diambil ditempat berdoa itu akhirnya terkuak ketika selesai doa malam khususnya itu yang dirasakan Gideon AS. Yang pertama yaitu menjadi tamu yang baik yang mengerti aturan yang berlaku di situ dan berusaha taat. Yang kedua belajar mengekang mulut agar bisa mengendalikannya dengan benar. Yang ketiga yaitu melakukan aktifitas sesuai tujuan semula yaitu berdoa.  Dan berikutnya adalah ketika yang sederhana bisa taat maka yang lebih besar akan lebih taat lagi.

Kesan yang sangat mendasar adalah ketika memasuki ruang doa yang dikenal dengan gua doa. Sangat mudah konsentrasi berdoa dan melampiaskan apapun kepada Tuhan. Justru yang sangat mengganggu adalah ketika ada serangan kantuk. Dan ditempat itulah bisa memilih dan memilah yang terbaik dilakukan bagi perkembangan rokhani masing-masing.

Setelah dua hari berjalan, masing-masing mempersiapkan diri meninggalkan lokasi Taman Getsemani ~ Ungaran menuju Klaten.  Berbagai ungkapan dari masing-masing pribadi memiliki kesamaan yang jelas yaitu ingin kembali ke Taman Getsemani. Disitu mereka rasakan hubungan yang sangat intim dengan Tuhan. Bahkan ketika berada di gua yang cukup untuk  8 orang, urapan Roh Kudus beberapa kali memenuhi orang-orang yang berdoa di dalamnya.

Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, kurang lebih pukul 13.00 akhirnya rombongan sampai ditempat yang dituju ~ rumah om Rudi yang juga suami ibu Anne. Sebentar mereka istirahat sambil makan siang yang di lanjutkan dengan peninjauan lokasi korban gempa bumi di wilayah Klaten. Adalah suatu pemandangan yang memprihatinkan ketika mereka sampai ke tenda-tenda penampungan korban.

Banyak kisah mengenaskan yang terjadi ketika gempa melanda wilayah mereka. Bagaimana bayi masih hidup sekalipun berada dibawah reruntuhan tembok, dan masih banyak kisah-kisah yang tidak mungkin semuanya ditulis disini. Banyak tatapan memelas yang nampak dari mereka. Bahkan ketika menyalami mereka yang berjajar disamping kendaraan, nampak ketakutan dan kengerian mewarnai wajah mereka.

Mereka senantiasa ketakutan kalau-kalau gempa susulan terjadi. Itulah yang terjadi di salah satu lokasi gempa yang menggemparkan Sabtu 27 Mei 2006 yang lalu.  Dan om Rudi adalah salah satu pemerhati atas korban di sebagian wilayah Klaten.  Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke daerah Sragen untuk  KKR di GKJ yang dijadualkan Sabtu 3 Juni 2006 pukul 18.00. Terschedule sore itu sebagai pembawa firman adalah mas Kris.

Kali yang pertama bagi Gideon AS berada di rumah mas Yokanan. Mereka melakukan doa dan perjamuan kudus lebih dahulu sebelum mengikuti kebaktian.  Setelah itu mereka bersama-sama mengikuti kebaktian yang dikhususkan bagi para remaja.  Banyak hal disampaikan oleh mas Kris yang disambung oleh mas Yokanan sebagai pembawa firman Tuhan. Berkat luar biasa dirasakan oleh peserta kebaktian bisa dilihat jelas dari wajah-wajah mereka. 

Malam kian terasa ketika kebaktian usai, dan malam itu juga mereka kembali ke Klaten untuk persiapan KKR di GSJA yang dimulai pukul 06.00 pagi. Sepanjang perjalanan mas Yokanan memberikan support kepada team agar senantiasa hidup kudus, karena pekerjaan besar terbuka di depan mata. Pelayanan Tuhan mulai bergerak melalui pribadi-pribadi yang senantiasa menjaga kekudusan. Juga mas Yokanan berbicara mengenai cara bagaimana mengenal Tuhan Yesus secara pribadi. Berbagai ilustrasi disampaikan dengan jelas dan gamblang dan juga disertai kisah kesaksian dari kejadian yang dialami mas Yokanan baik ketika belum ditangkap Tuhan maupun ketika diproses Tuhan. Bahkan penyampaian visi ketika beberapa kali ia terima langsung dari Tuhan tidak lagi di tutup-tutupi sekalipun ada beberapa yang masih dirahasiakan dengan alasan agar tidak terjadi kesombongan. Seiring dengan hangatnya pembicaraan malam itu, sampailah rombongan kecil ke Klaten di rumah om Rudi.

Pagi-pagi sekali mereka sudah hingat-bingar berebut kamar mandi. Tentu berebutnya secara tersamar ~ saling menjaga hati dan kekudusan. Saling menutup celah agar tidak ada kesempatan iblis untuk merampas damai sejahtera. Saling mengingatkan satu dengan yang lain agar tidak jatuh ke dalam dosa.

Rombongan ternyata sudah dinanti pihak pengurus Gereja yang akan dikunjungi. Agak terlambat memang namun tidak mengurangi kebahagiaan jemaat yang hadir. Hal ini terlihat dengan jelas antusias mereka ketika mendengarkan firman Tuhan yang disampaikan mas Yokanan. Bahkan gembala sidang memberikan tanggapan yang sangat positif terhadap KKR pagi itu, sekaligus ungkapan kerinduan diadakannya KKR dengan lingkup yang lebih luas ~ seluruh kota Klaten.

Setelah selesai kebaktian dilanjutkan dengan KKR di cabang GSJA di tempat yang berbeda. Kembali berkat Tuhan tercurah ditempat itu. Wajah-wajah penuh harap kembali terlihat dengan jelas. Dan hari itu ditutup dengan kebaktian ketiga di GSJA yang kali ini Gideon ditunjuk sebagai pembawa firman Tuhan.

Senin 5 Juni 2006 direncanakan akan mengunjungi lokasi korban gempa di wilayah Jogjakarta dan sekitarnya khususnya daerah Bantul. Namun sebelum sampai di lokasi lebih dahulu menjumpai Ibu Monik yaitu seorang hamba Tuhan dari daerah Bali yang sudah beberapa hari membuka posko di salah satu hotel dekat Malioboro. Dalam perbincangan yang cukup hangat, informasi demi informasi saling mengisi yang berakibat saling menguatkan. Dan sebelum berpisah ibu Monik mengajak berdoa bersama dengan team Heaven Ministry.

Namun apa yang terjadi setelah berdoa ?. Ibu Monik mengadakan perbincangan dengan mas Yokanan cukup serius, sampai akhirnya ibu Monik meminta mas Yokanan mendoakan dirinya. Gideon AS melihat ibu Monik bertekuk lutut di dekat mas Yokanan dan mas Yokanan tumpang tangan di kepala ibu Monik. Setelah doa dan tumpang tangan selesai, tiba-tiba ibu Monik bangkit berdiri dan berbicara kepada mas Yokanan.

“ Pak Yokanan,… apa yang akan saya lakukan uji dulu, karena sayapun belum 100 % peka dengan suara Roh Kudus “ kata ibu Monik yang tiba-tiba berbicara lantang penuh wibawa dan tatapan mata yang lembut tetapi cukup tajam. Bahasa roh meluncur demikian deras dengan gerakan-gerakan tangan yang penuh wibawa seorang utusan Tuhan.

Inti dari yang dikatakan ibu Monik tidak bisa dijelaskan disini karena sebagian menggunakan bahasa roh, namun yang bisa ditangkap adalah peneguhan, jangan ragu dan bimbang, terus mengandalkan Tuhan dan agar selalu hidup dalam kekudusan. Setelah itu tiba-tiba ia menunjuk ibu Rut yang serta merta berdiri dari tempat duduknya. “ Tidak perlu berdiri “ kata ibu Monik dengan cepat. Segera ibu Rut mengurungkan niatnya yang mau berdiri. Ia segera berlutut dan mengangkat kedua belah tangannya sebagai tanda penyerahan diri.

Kembali dengan lantang keluar bahasa roh dari mulut ibu Monik. Juga berbicara mengenai peneguhan tugas sebagai pendoa safaat dan hamba Tuhan yang tidak perlu ragu lagi dengan tugas yang Tuhan letakan diatas pundaknya. Terus kerjakan dan tetaplah kuat karena Tuhan sendiri yang memberi kekuatan kepadanya. Setelah itu memanggil ibu Ratna dan suaminya agar berdiri.

Berbagai pengajaran, peneguhan dan nasehat serta ajakan disampaikan kepada ibu Ratna dan  mas Kris suaminya selain juga melalui bahasa roh yang meluncur dengan seketika.  Setelah itu seorang anak muda usia yang ikut bersama-sama dengan mas Yokanan yang bernama Broto mendapatkan peneguhan juga melalui ibu Monik. Urapan sangat terasa diserambi hotel dimana ibu Monik menginap.

Tidak lama kemudian mulai melakukan kunjungan bersama-sama dengan kendaraan operasional team ibu Monik yang terjadual mengirimkan logistic di lokasi gempa di wilayah Bantul. Di sepanjang jalan menuju ke lokasi menggambarkan kehancuran melanda rumah-rumah dengan berbagai skala. Ada yang rata dengan tanah, yang miring, retak dan ada yang tetap berdiri dengan kokoh.

Aktivitas hari itu memang di khususkan meninjau lokasi gempa.  Dan memang demikian banyak derita yang melanda mereka yang terkena bencana. Wajah-wajah penuh luka dan derita. Beberapa bahan makanan yang di distribusi, selimut yang hanya beberapa potong sedikit membuat  hati mereka terhibur. Beberapa orang bertanya tentang berbagai hal. Terjadi komunikasi yang mengarah pada penginjilan Kristus. Beberapa ibu membawa bayi yang digendongnya dibawa untuk di doakan. Bahkan ada seorang tua yang sudah renta beserta dengan cucunya yang kurus kering, bersedia ketika didoakan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Pasca gempa menjadi buah bibir dari mereka yang menjadi saksi hidup kejadian Sabtu pagi menjelang terbitnya sinar matahari. Beberapa Gereja di daerah Mawen menjadi luluh lantak bahkan beberapa korban nyawa tidak lagi terelakkan dengan berbagai kondisi dan penyebab. Bahkan dikabarkan beberapa hari setelah gempa dalam satu hari ada 6 orang yang bunuh diri karena tidak lagi tahan dengan penderitaan yang terjadi di depan mata.

Menjelang matahari terbenam team Heaven Ministry kembali ke Klaten. Sampai di Klaten kurang lebih pukul 20.00. Letih dan lunglai sangat terasa melanda seluruh team. Sebagian menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak bahkan ada yang tidak tertarik untuk mandi karena demikian letih, sementara yang lain ada yang sibuk dengan berbagai urusan.

Esok hari adalah 6 Juni 2006 ~> di identikan dengan 666 atau angka Lucifer. Dikabarkan pula bahwa pada tanggal tersebut ada rapat akbar di Menado yang melibatkan aktivitas orang-orang penyembah Lucifer seluruh dunia. Entah disadari atau tidak namun malam itu sepulang dari kunjungan ke lokasi gempa di Bantul ada nuansa yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Asa secercah goresan yang menyayat hati sehingga menimbulkan luka. Memang ada usaha untuk tidak dibuka, ada usaha untuk disembunyikan, akan tetapi ternyata tidak mudah dilakukan.  Bahkan gagal. Ada seorang ayah yang dilatih untuk peka terhadap apa yang terjadi disekitarnya termasuk adanya hati yang luka.

Waktu terus merambat. Ia tidak bisa diam ditempat apalagi dibendung. Sebagian kawan-kawan Gideon AS sudah tidur lelap. Dalam pada itu waktu sudah melewati tengah malam. 6 Juni ’06. Ada sesuatu yang terjadi khususnya yang belum tidur. Semula tidak terlalu memperhatikan apa yang terjadi di sekeliling mereka bahkan tidak mau ambil peduli dengan angka itu. Namun akhirnya mereka bisa merasakan bahwa ada sesuatu pada waktu itu.

Ada duka diantara mereka, ada hati yang luka dan ada yang mau memporak porandakan kesatuan mereka. Mas Yokanan bahkan akhirnya memberitahu kepada seluruh team pada ke esokan harinya apa yang akan terjadi malam itu karena Tuhan sudah memberitahukan dirinya.  Iblis berusaha menghancurkan, merusak dan bahkan mau merampas damai sejahtera diantara mereka.

Pengajaran malam itu sungguh berat dan luar biasa bisa dirasakan oleh mereka yang diberikan karunia kepekaan, namun mereka semua akhirnya bersyukur karena yang terjadi berujung pada kemenangan pada pihak Tuhan Yesus yang pasti memberikan kekuatan pada anggota team, sekalipun semula tidak disadari dengan baik. Ke esokan harinya mas Yokanan mengadakan doa pagi bersama, menjelang kepulangan team yang bersama-sama dengan ibu Rut yang akan pulang kembali ke Bekasi lebih dahulu. Sedangkan sisanya akan kembali beberapa hari kemudian. Pagi itulah mas Yokanan menyingkapkan ada apa dibalik peristiwa yang terjadi pada dini hari tadi, sekalipun nampak mas Yokanan tidur dengan nyenyak.

Urapan Roh Kudus pagi itu sungguh dahsyat luar biasa. Masing-masing sarat dengan pengalaman yang bersifat personal. Hanya Tuhan dan dirinya yang tahu atas apa yang terjadi dipagi hari itu.

“ Ada harga yang harus dibayar ketika kalian mengikut Aku “ seseorang berkata sebagai penafsiran bahasa roh yang keluar dari ibu Anne.

Penyembahan dan pujian yang dipimpin ibu Ratna membawa dengan leluasa hadirat Tuhan bekerja pada setiap pribadi yang memang sudah menyerahkan segala sesuatunya kepada pimpinan Tuhan.  Tangis dan ungkapan dari hati yang paling dalam menguak dengan tajamnya. Membelah permukaan kerak hati yang mengeras karena berbagai problema dan persoalan. Bahkan api Roh Kudus terasa menggelegak mendobrak rongga hati setiap pribadi, meluruhkan kesombongan diri dan menghancurkan kerajaan-kerajaan pribadi. Semua menjadi siap ketika Roh Kudus menjamah hati, yang berakhir dengan kelegaan yang sempurna. Beban tidak lagi menghimpit, yang ada hanya sukacita di dalam Tuhan. Wajah kembali ceria seakan penuh dengan sinar kemuliaan Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: