r. Suka-suka Tuhan,..

Jum’at  16 Juni 2006. Waktu menunjukkan pukul 23.00 Gideon AS baru saja menutup pintu kamar, mendengar ada suara yang cukup aneh yang tidak biasa terdengar. Beberapa ketukan di beberapa tempat menarik perhatian Gideon AS sehingga ia keluar kamar di ikuti Yulia istrinya. Di ruang depan mereka lihat Samuel R yang sedang duduk termenung di ruang tamu.

Segera mereka dekati anaknya. Ketika Samuel R disapa dengan lembut oleh ayahnya, ia tidak menjawab tetapi nampak mengalir air mata perlahan-lahan. Disusul kemudian mata satunya lagi tidak lagi bisa menahan air mata. Kemudian dengan terbata-bata Samuel R berkata :

“ Papa dan mama,.. tidak lama lagi Samuel R akan berangkat “

“ Kemana ? “ tanya Gideon AS santai.

“ Malaikat sudah mengerumuni tempat ini untuk menjemput saya ke sorga “

“ Lantas  ? “

“ Om dan tante, pak de dan juga eyang masih belum selamat itu yang memberatkan Samuel R “ jawab  Samuel R sambil terisak.

“ Ya sudah, tawar menawar sama Tuhan, seperti raja Hizkia yang minta perpanjangan usia “

“ Sudah memohon seperti itu tetapi tidak bisa, harus berangkat sekarang. Tuhan Yesus ada ditengah –  tengah mereka untuk  menjemput saya sekarang juga “

“ Ya kalau memang Tuhan mau sekarang, ya berangkatlah sekarang, tetapi kalau boleh mintalah supaya  tubuh dan jiwamu juga dibawa serta, supaya papa tidak repot mengubur kamu “

“ Iya, kalau sudah kehendak Tuhan kamu pulang sekarang, mama rela kamu pergi karena kamu bukan lagi milik  mama tetapi milik Tuhan sepenuhnya “ kata Yulia P dengan sangat tenang.

Malam itu terjadi perbincangan yang sebenarnya sangat menegangkan, betapa tidak persoalannya adalah antara hidup dan mati, iman dan pengharapan serta pengandalan yang sepenuhnya kepada Tuhan. Kematian tubuh yang selama ini dikenal sangat menyedihkan dan terkadang mengerikan, ternyata disikapi dengan tenang oleh sepasang suami istri. Karena mereka sangat percaya bahwa yang terbaiklah yang Tuhan berikan kepada mereka dan anak-anak mereka.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 mata Gideon AS sudah sangat berat untuk dibuka. Sementara itu Samuel R masih bernegosiasi tentang program pengangkatannya. Akhirnya Gideon AS masuk kamar untuk merebahkan tubuh yang terasa letih. Ia berjalan tetap tenang karena ia tidak punya alasan untuk gelisah. Kematian bukan sesuatu yang menakutkan bagi dirinya, anak-anaknya dan juga bagi Yulia P istrinya, karena mereka sangat yakin bahwa kematian di dalam Kristus adalah suatu keuntungan dan pasti masuk sorga.

Malam itu Yulia P menemani Samuel R yang sulit untuk tidur. Banyak yang diperbincangkan pada saat itu yang berkisar sekitar kesiapan Samuel R dijemput para malaikat untuk dibawa ke sorga. Tawar menawar terjadi dan ternyata Tuhan mengijinkan permohonan Samuel R. Apa yang terjadi ke esokan harinya ?.

“ Pa,… roh Samuel R jam 02.00 dibawa Tuhan “ kata Yulia P sambil menyeka mata yang masih agak sulit dibuka.

“ Tubuhnya ? “

“ Ada lagi tidur “ jawab Yulia P.

Sementara mereka berbincang muncul dari balik pintu kamar, sesosok tubuh Samuel R tanpa roh. Ia bagaikan robot yang tidak bisa berkomunikasi. Ia berjalan biasa tetapi tanpa ekspresi. Untuk komunikasi hanya menggunakan tulisan tangan, mulut tidak bisa digunakan untuk bicara.

Dari tulisan yang dibuatnya diketahui bahwa roh Samuel R diajak pergi selama dua hari. Saat itu tubuh Samuel R benar-benar memerlukan pengawasan secara khusus. Terkadang ia duduk di meja computer, terkadang berjalan mondar-mandir di ruang tamu, dapur dan kamar. Hari itu Samuel R benar-benar menjadi orang yang berbeda dari biasanya. Keluarga Gideon AS sudah beberapa kali menghadapi yang seperti itu sehingga sedikitpun tidak memiliki rasa khawatir.

Sabtu malam ketika Gideon AS dan Wilbert pulang dari rumah ibu Anne, Yulia P sudah memberitahu suaminya bahwa roh Samuel R sudah kembali.  Ia katakan :

“  Ketika roh Samuel R sampai di sorga, ia rasakan betapa indah disana dan meminta kepada Tuhan Yesus  yang membimbingnya agar rohnya tidak dikembalikan lagi ke tubuhnya, tetapi Tuhan mengatakan bahwa bukankah Samuel R yang minta agar rohnya dikembalikan ke tubuhnya, bahkan sampai menangis-nangis

   ? “

“ Terus ? “

“  Ya, rohnya tetap kembali ke tubuhnya dan Tuhan malahan memberikan tugas agar memberitakan keselamatan kepada om, tante, pak de dan eyangnya seperti apa yang menjadi alasan ketika akan  dijemput. “

Pada pagi harinya, ketika mereka mau persiapan doa pagi, Samuel R tiba-tiba muncul dari kamarnya dengan wajah ceria.

“ Mana oleh-oleh dari sorga ? “ kata ayahnya serius.

“ Wah banyak banget, Tuhan memberikan nasehat untuk Samuel R. Harus selalu hidup kudus, tidak lagi  berbuat dosa, harus bisa mengalahkan kedagingan dan banyak lagi yang lain “

“ Nyesel rohnya kembali ketubuhmu ? “

“ Sebenarnya sih begitu, tetapi ketika ingat tugas dari Tuhan ya,.. jadinya bersuka cita saja “

Perbincangan pagi itu sungguh demikian hangat. Masing-masing merasa dikuatkan.  Satu hal yang mene-guhkan Gideon AS akan tugas-tugasnya yang demikian berat dikemudian hari disampaikan Tuhan pada Samuel R ketika bersama-sama dengan Tuhan. “ Bantu ayahmu dengan tidak sering menyusahkannya, karena tugas-tugasnya di kemudian sangatlah berat. Tantangan demi tantangan bukan semakin kecil tetapi sebaliknya.”

Pada kesempatan yang berbeda, tepatnya setelah doa malam, Wilbert mendapatkan pesan khusus dari Tuhan untuk keluarga Gideon AS. Cara yang disampaikan kali ini cukup unik. Melalui pertanyaan yang sederhana, cukup mengangkat tangan sebagai jawabannya sekaligus tanda setuju.

“  Siapakah yang ketika Tuhan memberikan berkat akan tetap setia kepada Tuhan ! Angkat tangan “ kata  Wilbert mengawali pertanyaan. Semuanya mengangkat tangan tanda setuju. Lalu,

“  Siapa yang ketika Tuhan memberikan berkat, berusaha hidup kudus dan meninggalkan dosa dan  keinginan daging ? “ Semuanya angkat tangan tanda setuju.

“  Tidak lama lagi Tuhan akan memulihkan keluarga ini, demikian yang Tuhan pesankan tadi “

Tiba-tiba Gideon AS teringat ketika Wilbert diajak ke RS Husada untuk menengok ayahnya ibu Rut yang sedang dirawat. Tidak jauh dari tempat ayahnya ibu Rut dirawat terbaring sakit pula anggota gereja Tiberias yang baru pagi hari dirawat.. Wilbert memimpin doa. Di dalam perjalanan pulang ibu Anne yang bersama-sama dengan mereka memberitahu Gideon AS bahwa sebenarnya Tuhan memberitahu ibu Anne tentang sesuatu mengenai Wilbert ketika berdoa di Rumah Sakit tadi, tetapi sekarang belum waktunya dibuka, jadi bersabarlah,… ujar ibu Anne pada Gideon AS.  Gideon AS hanya tersenyum dan tidak berusaha ingin tahu. 

Pada ketika yang lain Gideon AS bertanya pada Wilbert apakah ada penyataan Tuhan ketika ia berdoa di Rumah Sakit tadi.

“ Ada penyataan Tuhan, tetapi tidak bijak kalau dibuka di Rumah Sakit tadi agar tidak menyinggung yang  sakit “ jawab Wilbert.

“ Apa yang terjadi ? “

“ Tuhan menegur dia, agar tidak ragu-ragu lagi melayani Tuhan, agar tidak beralasan lagi kalau mau melayani Tuhan “

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: