m. Ilustrasi “khusus”

Sebelum masuk dalam lingkup ilustrasi yang merupakan oleh-oleh yang dibawa Obaja W ketika bersama-sama dengan Tuhan Yesus, ada catatan mengenai seorang hamba Tuhan yang menjelaskan perihal kasih, dimana digambarkan ada lima dimensi tentang kasih. Dimensi yang pertama ketika kita mengasihi sesama kita yang mengasihi kita. Hal ini sangat manusiawi. Banyak yang bisa lakukan hal ini, sekalipun dia bukan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Dimensi yang kedua adalah ketika kita mengasihi sesama kita sekalipun ia tidak mengasihi kita. Dimensi yang ketiga adalah ketika kita mengasihi sesama kita sekalipun kita difitnah oleh sesama kita. Dimensi ke empat adalah ketika kita tetap mengasihi sesama kita sekalipun kita disakiti oleh sesama kita. Dan dimensi yang kelima adalah ketika kita mengasihi sesama kita dengan kasih agape. Mengasihi sesama kita sebagaimana Tuhan Yesus mengasihi kita.

Pada sebuah suku pedalaman di Indian, ada sebuah budaya yang unik. Seorang remaja putra akan diakui dewasa oleh sukunya ketika lulus dalam sebuah pengujian. Suatu waktu ada seorang anak kepala suku yang sudah siap untuk di uji, karena ia ingin sekali menjadi orang dewasa. Kemudian oleh sang penguji kedua mata remaja itu ditutup dan dibawa ke tengah-tengah hutan. Sampai pada suatu tempat yang penuh dengan pohon-pohon besar, remaja itu ditinggalkan oleh penguji seorang diri di tengah-tengah hutan. Hingga tiba malam hari ia baru boleh membuka tutup matanya. Dan malam itu dalam kesendiriannya, remaja itu mulai merasa ketakutan yang luar biasa, suara binatang buas dan lolongan serigala serta anjing hutan sangat mendorong dirinya untuk berteriak dan lari keluar dari dalam hutan, namun ia diam dan tetap bertahan untuk tidak berteriak, karena kalau ia lakukan itu berarti ia tidak lulus dalam pengujuan itu. Ia hanya diam dan senantiasa waspada.

Malam semakin nampak mengerikan, tetapi karena ia ingin lulus dalam pengujian itulah yang membuat dirinya bisa bertahan sampai pagi menyingsing. Remaja itu bisa bernafas lega karena akhirnya ia bisa lulus. Sebentar ia menggeliat dan bersiap-siap untuk keluar dari hutan. Tetapi tiba-tiba ia terkejut ketika ia melihat ujung anak panah dibalik pohon tidak jauh dari tempat dimana ia berada. Segera ia meloncat kesamping pohon, tetapi segera ia bernafas lega karena ia melihat ayahnya sedang berdiri dengan busur ditangan lengkap dengan anak panahnya yang siap bila sewaktu-waktu digunakan. Ternyata sang ayah tanpa diketahui anaknya telah menemani anaknya sepanjang malam dengan sikap waspada kalau-kalau ada bahaya yang mengancam anaknya.

Itulah gambaran Allah Bapa yang senantiasa melindungi anak-anakNya. Hanya terkadang anak-anaknyalah yang tidak menyadari kehadiran Bapa sorgawi ditengah-tengah kehidupannya.

Ilustrasi selanjutnya digambarkan sebagai berikut :
Ada sebuah keluarga dimana sang suami mengalami depresi yang demikian berat, persoalan silih berganti, masalah datang dan pergi, dan penderitaan demi penderitaan menjadi kawannya setiap hari sampai ada keinginan untuk mengakhiri hidup. Dalam keputus asaannya ia datang ke psikiater dan menyatakan bahwa ia ingin bunuh diri. Kemudian psikiater itu mengatakan bahwa memang benar, bahwa ia akan mati. Tidak akan lama lagi, bahkan hari ini adalah hari terakhir dia menjalani kehidupan sebagai seorang manusia demikian sang psikiater menambahkan. Persiapkan dirimu baik-baik menjelang hari kematianmu, demikian nasehat psikiater untuk yang terakhir kalinya. Pria ini kemudian pulang kerumah dan menceritakan kepada istrinya apa yang dikatakan psikiater perihal dirinya.

Malam itu sebelum tidur, pria itu meminta istrinya menemaninya berbincang-bincang di balkon rumahnya. Besok aku akan mati,.. demikian berulang kali pria itu berkata pada diri sendiri. ” Sudah siapkah aku menghadapi kematian ?,… Dan kalau nanti aku mati kemana aku akan pergi ? Ke sorgakah ? atau malahan ke neraka ?,…. Kalau ke sorga ? ,.. apa yang bisa menjadi argumen bahwa saya pergi ke sorga ?,.. Apakah saya sudah hidup benar dihadapan Tuhan ?,.. Tidak pernahkah aku menyakiti sesamaku ?,.. Sudahkah hidupku menjadi berkat bagi keluargaku ? Bagi sesamaku ?,… Sudahkah aku benar-benar siap menghadap Penciptaku ?,… Laki-laki itu kemudian menangis dengan sedihnya. Terbayang bahwa sebenarnya ia belum siap.
Siap atau tidak siap besok ia akan mati demikian pikirnya, maka ia segera membereskan segala persoalan yang belum selesai malam itu juga. Kawan-kawan yang pernah menyakitinya sudah diampuninya, siapapun yang berperkara dengan dia diselesaikan dengan penuh kasih. Saat-saat yang paling menentukan itu ia gunakan untuk berbuat sebaik-baiknya dengan sesamanya dan yang terakhir ia berdamai dengan Tuhan, memohon ampun atas kesalahan yang dibuatnya selama ini, memohon ampun atas segala dosa-dosanya.

Dan menjelang tengah malam ia merasa yakin bahwa saat ini ia layak masuk ke sorga. Perasaanya begitu tenang, damai dan bahagia sekali. Ia akan memasuki kehidupan yang baru yaitu kehidupan disorga begitu ia berfikir. Apakah laki-laki itu esok hari benar-benar akan mati ? Tentu itu bukan urusan manusia lagi tetapi itu adalah urusan Tuhan. Tidak penting kapan kita mati, yang penting justru kemana kita pergi setelah mati, dan yang lebih penting lagi adalah kesiapan manusia ketika menghadapi kematian. Dan bukankah manusia tidak akan pernah tahu kapan hari kematiannya ?,… Artinya kita kalau memang menginginkan kerajaan sorga, hendaklah senantiasa bersikap seakan-akan hari ini adalah hari terkhir kehidupan kita didunia ini.

Kematian adalah misteri yang tidak pernah bisa dipecahkan manusia.
Kemudian berikut ini adalah ilustrasi yang ketiga :
Ada dua bersaudara kakak beradik, yang masing-masing sudah berusia remaja. Sang kakak bertabiat pemarah, dan adiknya terbiasa dengan sasaran amarah kakaknya. Suatu ketika sang ayah yang mengasihi kedua anaknya itu memanggil mereka berdua. Ayahnya tahu persis tabiat buruk anak pertamanya, dan sekaligus prihatin dengan anaknya yang kedua yang selalu menjadi sasaran amarah sang kakak.
” Anakku yang pertama,.. ayah ingin agar kamu merubah perilakumu yang pemarah itu ”
” Ya ayah,.. ” jawab anak pertamanya dengan menunduk.
” Ayah mengerti bahwa jiwa muda kalian terkadang sulit dikendalikan, tetapi ayah yakin bahwa kalian akan bisa menguasai diri ”
” Saya akan berusaha ayah, ” janji anaknya yang pertama.
” Sekarang begini,….. setiap kali kamu marah, ambil dua paku dan kamu pakukan satu di pohon yang kering dan satu lagi di pohon yang masih hidup. Dan lakukan itu terus berapapun banyaknya paku yang akan menembus kayu-kayu itu.

Demikianlah maka setiap kali anak pertamanya marah maka paku-paku akan menancap pada pohon baik yang kering maupun yang masih hidup. Sampai suatu ketika anak keduanya menghadap ayahnya.
” Ayah,.. sekarang kakak sudah tidak marah-marah lagi, lihat paku-paku dalam pohon tidak lagi bertambah ”
” Panggil kakakmu kemari ”.
” Baik ayah ”. Segera ia memanggil kakaknya untuk bersama-sama menghadap ayah mereka.
” Anak-anakku semua,.. perhatikan paku-paku yang menancap pada pohon-pohon itu. Amarah bagaikan paku yang sangat menyakitkan. Bayangkan kalau paku itu menancap pada hati manusia, betapa dalam luka akibat marah.

Kemudian sang ayah menyuruh kakak beradik itu mencabut paku-paku yang ada di pohon, baik pohon yang kering maupun pohon yang masih hidup. Lalu sang ayah kembali berkata :
” Perhatikan ketika paku dicabut pada kedua pohon itu, sama-sama meninggalkan bekas. Untuk pohon yang sudah kering luka bekas paku tidak akan pernah hilang, tetapi untuk bekas paku pada pohon yang masih hidup, luka itu akan segera hilang tertutup oleh getah dan pertumbuhan pohon itu sendiri.

Pohon yang kering itu menggambarkan kehidupan diluar Tuhan Yesus, dan pohon yang hidup itu adalah suatu gambaran kehidupan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Bagi orang yang hidup diluar Kristus, adalah biasa membalas kejahatan dengan kejahatan, gigi ganti gigi nyawa ganti nyawa, sehingga memendam amarah, dendam, iri dan dengki bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ketika disakiti, dimarahi, mungkin akan di ingat seumur hidup. Sangat berbeda dengan mereka yang hidup di dalam Kristus, mereka dengan mudah memaafkan, bahkan memberkati sesama mereka yang sudah menyakiti hatinya. Siap mengasihi sesama mereka dengan kasih agape.

Sudah mengasihi sesama ?,..

Tuhan Yesus memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: