s. Satu demi satu,….

Jauh dihati Gideon, ada kerinduan yang teramat dalam. 6 bersaudara satu ayah dan satu ibu berkumpul bersama pada suatu tempat yang penuh damai. Disertai dengan keluarga besarnya masing-masing untuk mendirikan mesbah, melantumkan puji-pujian dan penyembahan, menaikkan dupa yang harum dihadapan Tuhan pencipta langit dan bumi. Impian itu begitu menggoda dari hari lepas hari. Kapan mimpi ini menjadi suatu kenyataan, kapan impian ini bisa terwujud ? Kapan ? dan Kapan ?…

Peristiwa demi peristiwa terus mewarnai lembar kehidupan Gideon dan keluarganya. Gideon sendiri berusaha memenangkan Andi dan keluarganya di Cililitan termasuk mertua dan kedua anaknya. Mereka bukanlah sosok keluarga yang lemah. Pendidikannya mencapai strata satu, artinya bukan background pendidikan yang asal asalan. Istrinyapun cukup berpendidikan. Mereka dikaruniai Tuhan anak-anak yang manis sebagai titipan Tuhan.

Awal tahun 2008 Gideon sangat terbeban dalam pergumulan untuk memenangkan saudara-saudara sekandungnya. 5 Januari 2008 Gideon memasuki masa puasa panjang, diserta doa. Dan kira-kira seminggu kemudian, Andi menghubungi Gideon untuk bisa datang ke rumahnya. Ada peristiwa yang terjadi pada keluarga Andi dimana memerlukan menghubungi Gideon berserta dengan team doanya untuk datang kerumah.

Hari berikutnya waktu itu pagi-pagi Gideon datang dengan Bapak IGN Sastra, seorang hamba Tuhan dari Bali. Diawali dengan tanya jawab, schering dan akhirnya mereka yaitu Andi dan istrinya demikian pula ibu Diro bersedia di doakan. Ibu Diro tumbang kebelakang, ia rebah karena tidak tahan terhadap urapan Roh Kudus. Andi dan Erin istrinya juga di doakan. Setelah itu Gideon memberikan kesaksian latar belakang pertobatannya dilanjutkan Bapak IGN Sastra menyampaikan kesaksian bagaimana ia seorang putra mahkota raja Bali, meninggalkan warisan duniawianya untuk mengikut Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh.

Tidak lama berselang Andi dan istri serta kedua anaknya mulai melangkah mengikuti kebaktian di Tiberias. Beberapa kali di dampingi oleh Gideon dan Yulia serta anak-anaknya yang bisa ikut. Namun setelah terbiasa ke Tiberias, akhirnya sudah bisa berjalan sendiri, bahkan beberapa waktu kemudian mereka berdua mengalami hidup baru, mereka menjalani baptis selam di GTI. Terpujilah nama Tuhan Yesus Kristus.

Ibu Anne suatu ketika mengisahkan pertemuannya dengan seorang wanita muda yang diperkenalkan sebagai Choo Thomas Indonesia yang bernama Teresia. Waktu itu ada doa di Pantai Ancol. Saat pulang dari acara tersebut mereka bertemu dengan cara yang unik, artinya masing-masing merasa bahwa Tuhanlah yang mempertemukan mereka dengan cara Tuhan. Ibu Anne mengisahkan bagaimana ia dan suaminya naik sebuah kendaraan bus yang sebenarnya nyaris mereka turun, karena semula mereka ketika datang tidak menggunakan bus tersebut. Sementara itu Teresia dituntun Tuhan untuk naik bus yang di dalamnya ada ibu Anne. Akhirnya mereka bertemu dan bertukar kata, bertukar sedikit pengalaman dan berlanjut ke pertemuan-pertemuan selanjutnya.

Suatu ketika mereka bertemu di tempat orang tua Teresia di Cibinong. Memang acara malam itu sepertinya adalah doa bersama untuk kesembuhan orang tua Teresia yang saat itu memang sedang sakit. Dalam team doa terdapat ibu Mega, ibu Rut, ibu Anne, bapak Rudi dan Gideon. Ternyata malam itu juga malam pelepasan bagi beberapa orang termasuk adik Teresia yang juga bernama Teresia yang belakangnya ditambah B menjadi Teresia B. Sedangkan Teresia pertama adalah Teresia A.

Pertemuan malam itu ternyata bukan pertemuan yang terakhir karena dilanjutkan pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Pertemuan selanjutnya di rumah ibu Mega, di kawasan Kalimalang. Disinilah terjadi peristiwa kontroversial. Memang mulanya biasa-biasa saja, berdoa, menyembah silih berganti, kemudian shering – shering satu dengan yang lain. Hal itu terus terjadi sampai larut malam, bahkan sampai menjelang pagi. Tangis dan air mata barulah mewarnai menjelang pertemuan selesai. Dalam pertemuan di tempat ibu Mega, ternyata ada beberapa orang lain yang juga ikut serta, termasuk Ibu Kesia dan kedua orang anaknya. Peristiwa itu sengaja tidak disajikan disini, karena begitu menggoncangkan iman. Siapakah yang salah ? Mengapa bisa seperti ini ?. Mengapa dia dilahirkan ?. Dan berbagai pertanyaan mengalir diantara isak tangis.

Ada yang menanggapi peristiwa itu memang sewajarnya, ada yang menanggapi bahwa pernyataan yang disampaikan Teresia kurang berhikmat. Ada akibat tentu ada penyebabnya. Kalau ditelusuri ke belakang, adalah wajar ketika hukuman Tuhan jatuh pada orang yang menggadaikan anaknya pada kuasa kegelapan. Pemahaman inilah yang sulit untuk bisa diterima, sulit ditelaah. Gideon secara pribadi tetap berpegang pada firman Tuhan bahwa tidak ada dosa sebesar apapun yang Tuhan tidak bisa ampuni sepanjang, hidup dalam pertobatan. Hanya masalahnya maukah hidup dalam pertobatan ? Tidak lagi menjadi hamba dosa ?. Maukah hidup dalam firman Tuhan dan menjadi pelaku dari firman Tuhan ? Peristiwa itu membawa dampak yang tidak ringan khususnya untuk beberapa pribadi yang masih jauh dalam dewasa dalam iman.

Ketika ada pertemuan di rumah ibu Anne, yang juga dihadiri ibu Rut, ada peristiwa yang cukup unik. Beberapa kejadian bahkan menimbulkan pro dan kontra terhadap apa yang dilakukan Teresia. Misalnya ketika menggunakan anggur perjamuan kudus bukan di minum tetapi di siramkan. Kemudian penggunaan minyak urapan yang ada kesan berlebihan. Bukan hanya itu karena mas Wahyu Yokanan juga akhirnya datang ketika mendoakan anak ibu Anne yang ada di Bali.

Gideon sendiri beberapa kali masih bertemu dengan Teresia, baik dalam pelayanan papanya yang masih belum kunjung sembuh, maupun dalam pelayanan pelepasan beberapa orang dari Tapanuli. Style Teresia dalam penerapan pelayanan memang agak berbeda dengan hamba-hamba Tuhan yang lain yang bersifat konvensional. Ia masih baru dalam gelanggang pelayanan ya, ia masih perlu banyak belajar bagaimana menyampaikan sesuatu kepada orang lain apalagi yang bersifat tragis dan ironis. Walaupun selalu ia katakan “ Tuhan berkata “.

Apa dan siapa Teresia biarlah waktu yang membuktikan siapakah dia sebenarnya. Namun apa dan siapapun dia, biarlah Alkitab yang memberikan penghakiman. Alkitab bagaikan cermin yang jujur, untuk membuktikan, menyatakan jati diri siapakah seseorang di hadapan Tuhan. Hamba Tuhan sesungguhnya kah, atau iblis yang menyamar sebagai malaikat terang. Yang pasti, adalah menjadi kewajiban hamba-hamba Tuhan untuk menguji roh apa yang ada dihadapannya. Uji dengan buah-buah Rohnya, uji dengan kebenaran Firman Tuhan.

Sementara Teresia masih merupakan teka-teki yang sarat dengan kontroversial, termasuk juga dalam deretan pribadi yang masuk dalam pengujian, Wilbert kembali diminta Tuhan untuk tidak melanjutkan sekolah. Lagi-lagi sebuah kontroversial, bagaimana ini bisa berjadi. Bukankah Tuhan yang mengijinkan Wilbert kembali sekolah, tetapi mengapa kini Wilbert harus keluar dari sekolah ?. Itulah yang sejenak mengganggu pikiran Gideon. Yulia memberitahu suaminya bahwa Wilbert beberapa hari tidak masuk sekolah.

Tuhan tahu yang terbaik bagi anak-anak-Nya.

Tuhan Yesus memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: